BRIN: Rukiyat dan Hisab Bisa Dipertemukan

  • 17 Feb 2026 16:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin mengatakan perbedaan hisab dengan rukyat dalam penentuan awal Ramadan bisa dipertemukan. Apalagi Pemerintah Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura atau MABIMS telah menyepakati kriteria seperti ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6, 4 derajat.

“Sesungguhnya bisa dipertemukan, itu sebabnya pemerintah menyamakan kriteria, menyepakati kriteria dan sepakati negara MABIMS. Brunei, Malaysia dan Singapura menyepakati 3 derajat dan elongasi 6,4,” kata Prof Thomas Djamaluddin dalam perbincangan bersama RRI Pro3, Selasa, 17 Februari 2026.

Thomas mengatakan Nahdlatul Ulama yang selama ini memakai metode rukyat, menerima kriteria yang dipakai MABIMS dan sejumlah ormas keagamaan lainnya. Begitupula dengan penganut hisab seperti Persatuan Islam (Persis) menerima ketentuan dari MABIMS.

“Diterima pengamal rukyat seperti NU dan ormas yang sepaham itu serta pengamal hisab seperti Persis. Tetapi Muhammadiyah tetap menggunakan kriteria yang berbeda, pada dasarnya hisab dan rukyat bisa dipersatukan tapi ada ormas yang berbeda,”ujarnya.

Prof Thomas menegaskan secara keilmuan, kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS yakni ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6, 4 derajat, sangat kuat. Kriteria yang dipakai MABIMS mengacu kepada hasil rukiyat internasional dan berdasarkan data astronomi.

“Hasil rukita internasional yang mengatakan tidak ada kesaksian hilal yang tingginya dibawah 3 derajat. Elongasi 6, 4 derajat didasarkan pada longasi yang paling dekat posisi bulan dengan matahari atau minimum 6,4,” kata dia.

Sebelumnya, pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

KHGT merupakan sistem penanggalan internasional yang menggunakan kriteria satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Seperti dikutip dari situs Muhammadiyah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar, mengatakan KHGT hadir sebagai solusi atas problematika perbedaan hari besar Islam.

“KHGT menggunakan prinsip bahwa jika hilal sudah terpenuhi di bagian bumi mana pun menurut parameter tertentu. Maka tanggal baru dimulai bagi seluruh dunia secara serempak,”kata Syamsul Anwar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....