Menteri Bahlil akan Kaji Rencana Stop Ekspor Timah
- 15 Feb 2026 11:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia mengatakan, akan mengkaji penghentian ekspor sejumlah komoditas mentah, termasuk timah. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.
Menurutnya, ekspor bahan mentah perlu diganti produk olahan dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan memperkuat struktur industri nasional.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun ke depan kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 15 Februari 2026.
Ia mencontohkan keberhasilan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019. Kebijakan tersebut dinilai meningkatkan nilai ekspor secara signifikan beberapa tahun terakhir.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya US$ 3,3 miliar. Kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai US$ 34 miliar," katanya, mengungakapkan.
"Jadi ada 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," ujarnya.
Bahlil mengatakan, hilirisasi terbukti memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia juga mendorong pelaku usaha membangun fasilitas pengolahan mineral di dalam negeri.
Ia mengajak investor agar berperan aktif dalam penguatan industri nasional. "Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," ucapnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026. Nilai investasi proyek tersebut mencapai Rp618 triliun dan mencakup berbagai sektor strategis.
Program itu meliputi hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga pembangunan kilang minyak. Seluruh proyek ditargetkan mulai berjalan tahun ini untuk memperkuat ketahanan industri nasional.
Produk hilirisasi diharapkan mampu menggantikan barang impor. Pemerintah juga membuka peluang pendanaan dari investor domestik, termasuk sektor perbankan.
"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor, ini captive market dalam negeri. Ini kesempatan perbankan untuk membiayai, nanti dikira hilirisasi hanya nilai tambahnya dikuasai teman-teman kita dari luar negeri," kata Bahlil.
Hingga 2040, program hilirisasi diproyeksikan menarik investasi hingga US$618 miliar. Sebagian besar berasal dari subsektor mineral dan batubara serta sektor minyak dan gas bumi.
Program tersebut juga diperkirakan menghasilkan ekspor hingga US$857,9 miliar. Selain itu, hilirisasi berpotensi meningkatkan PDB US$235,9 miliar dan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....