Komdigi Tekankan Pentingnya Pendampingan Orang Tua di Ruang Digital
- 14 Feb 2026 13:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Dirjen Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Alexander Sabar mengatakan, keluarga berperan bagi masa depan internet anak-anak . Bahkan, menurutnya, pendampingan orang tua jauh lebih penting dibandingkan pengawasan atau pembatasan penggunaan perangkat digital.
“Masa depan internet anak-anak kita sangat ditentukan oleh peran keluarga. Data APJII tahun 2025 menunjukkan, 87,8 persen generasi Z dan 79,73 persen generasi Alpha terhubung ke internet,” kata Alexander dalam acara Futurefam Summit 2026 di Jakarta, Sabtu, 14 Februari 2026.
Ruang digital, lanjut dia, memiliki risiko nyata yang sangat mengkhawatirkan bagi keselamatan fisik maupun mental anak-anak di Indonesia. Kasus perundungan siber dan kekerasan seksual non-kontak menjadi ancaman serius yang harus diantisipasi keluarga.
Hasil studi menunjukkan, mayoritas orang tua masih memiliki informasi yang sangat minim mengenai prosedur keamanan daring. Ketertinggalan pemahaman orang tua terhadap perkembangan teknologi digital dapat membahayakan keselamatan anak.
“Studi ECPAT bersama UNICEF dan Kementerian PPPA tahun 2023 menunjukkan hanya sekitar 1/3 orang tua yang memiliki informasi memadai tentang keamanan online. Ini suatu studi yang menunjukkan bagaimana posisi orang tua yang jauh ketinggalan,” kata Alexander, membeberkan.
Pemerintah telah menerbitkan regulasi mengenai tata kelola perlindungan anak di ruang digital melalui aturan hukum terbaru. Platform digital kini wajib dikategorikan berdasarkan tingkat risiko paparan konten berbahaya serta ancaman pencurian data pribadi.
Sektor pendidikan juga mulai membangun budaya sekolah yang aman untuk melindungi siswa dari kecanduan gawai berlebihan. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan agar implementasi aturan perlindungan anak dapat berjalan efektif.
“Pelindungan anak di ruang digital itu membutuhkan kolaborasi. Seperti, pepatah yang mengatakan, untuk membesarkan seorang anak, it takes a village to raise a child (dibutuhkan seluruh komunitas untuk membesarkan seorang anak),” ujarnya.
Plt. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPA, Indra Gunawan mendorong penguatan komitmen bersama dalam melindungi anak dari kejahatan daring. Menurutnya, perkembangan teknologi harus memberikan dampak positif tanpa mengabaikan aspek keselamatan para pengguna anak.
Kekerasan seksual non-kontak telah dialami oleh lebih dari empat persen anak laki-laki maupun perempuan di Indonesia. Angka tersebut menjadi peringatan bagi semua pihak untuk memperketat pendampingan terhadap penggunaan alat komunikasi digital anak.
“Orang tua juga perlu menjadi cerdas digital, bukan berarti menjadi ahli teknologi ya. Tapi juga tentunya orang tua perlu menjadi memberi pemahaman, bisa mendampingi dan terus mengarahkan pada anak-anak kita,” ujar Indra.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....