Sastra Dinilai Jadi Ruang Kritik Gender yang Jujur
- 10 Feb 2026 19:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Sastra dikatakan dapat tampil sebagai ruang kritik yang lebih jujur, reflektif, dan manusiawi. Kesimpulan itu muncul dalam dialog 'Wiwaksa Bastra', di Jakarta, baru-baru ini.
Para pembicara yang tampil sepakat karya sastra bukan hanya ekspresi estetik. Lebih dari itu bisa menjadi medium refleksi sosial yang mampu menyoroti ketimpangan dan perubahan dalam hubungan antargender.
Eko Marini, M.Hum., dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), menilai sastra dapat menghadirkan percakapan sensitif tentang gender. Terutama dengan cara yang lebih halus tetapi mengena.
“Karya sastra memberi ruang aman bagi pembaca untuk merenungkan isu-isu keseharian, termasuk ketidakadilan yang kerap luput dari pembahasan publik. Sastra tidak sekadar hiburan melainkan medium edukasi yang dapat membentuk empati dan karakter,” katanya.
Sedangkan Kepala Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) Unindra, M. Kabul Budiono, menyoroti tantangan penyebaran karya sastra di era media sosial. Menurutnya gelombang konten cepat sering membuat karya bernilai kritik sosial terpinggirkan.
“Padahal ruang publik butuh lebih banyak karya yang mampu mengajak masyarakat berpikir. Terutama tentang relasi gender secara kritis dan adil,” katanya.
Sementara Ketua Program Studi Magister Bahasa Inggris Unindra, Dr. Oom Komariah, menjelaskan sejarah sastra Indonesia mencatat banyak perubahan cara pandang. Baik, terhadap perempuan, laki-laki, maupun relasi kuasa di antara keduanya.
“Melalui sastra, kita bisa melihat bagaimana konstruksi gender dibentuk, dipertanyakan, bahkan digugat,” ujarnya. Dia menambahkan sastra memiliki peran moral untuk tidak terjebak pada ideologi tertentu, melainkan menyuarakan kemanusiaan secara lebih luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....