Kepala BMKG Pastikan Modifikasi Cuaca Aman Bagi Lingkungan

  • 28 Jan 2026 17:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memastikan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) tidak merusak ekosistem alam. Faisal menilai penggunaan bahan kimia dalam proses tersebut tidak menurunkan kualitas air permukaan secara drastis.

Faisal menjelaskan bahwa seluruh material penyemai awan telah melewati rangkaian kajian ilmiah yang sangat mendalam. Pihaknya menjamin kandungan zat tersebut aman bagi keberlangsungan lingkungan hidup di sekitar lokasi operasi.

“Perlu kami sampaikan bahwa modifikasi cuaca pada dasarnya tidak membahayakan. Hal tersebut aman untuk dilakukan," ucap Faisal di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Faisal merinci bahan seperti garam dapur hingga kapur tohor tidak memberikan dampak negatif yang berarti. Tim teknis terus memantau kondisi badan air secara berkala untuk menjaga keamanan bagi warga.

“Penggunaan NaCl untuk menurunkan hujan, kapur tohor, hingga KCl untuk flare telah diterapkan. Bahan-bahan tersebut terbukti tidak menimbulkan efek lingkungan yang signifikan,” katanya.

Faisal mengungkapkan hasil pengawasan laboratorium menunjukkan tingkat kebersihan air tetap terjaga dengan sangat baik. Kualitas sumber air bersih milik masyarakat dipastikan tidak mengalami penurunan fungsi setelah dilakukan hujan buatan.

“Selain itu, kami telah memantau kualitas air di badan air dan sejenisnya. Hasil pemantauan menunjukkan tidak ada penurunan kualitas air permukaan secara signifikan,” ucap Faisal.

Faisal menyebut pihaknya telah menuntaskan 83 kali operasi teknologi modifikasi cuaca. Sebagian besar kegiatan tersebut menyasar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah sesuai dengan kebutuhan data.

Faisal menguraikan bahwa intervensi teknologi ini sangat efektif untuk memitigasi risiko bencana banjir bandang. Langkah antisipasi tersebut menjadi solusi konkret dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang melanda berbagai provinsi.

Faisal menambahkan bahwa operasi ini juga berfungsi mencegah timbulnya titik api pada kawasan hutan. Pengaturan curah hujan membantu menjaga kelembapan lahan gambut agar terhindar dari potensi kebakaran hebat.

"Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya karhutla atau kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini juga bertujuan meningkatkan tampungan air di daerah, bendungan, maupun waduk,” kata Faisal.

Faisal mengklaim pengisian volume air pada bendungan merupakan sasaran strategis dari program modifikasi cuaca. Pasokan air yang melimpah pada waduk sangat krusial dalam menyokong sistem irigasi lahan pertanian nasional.

Sebelumnya, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendorong penambahan peralatan teknologi untuk memperkuat sistem mitigasi bencana nasional. Lasarus menilai pemenuhan kebutuhan radar cuaca sangat mendesak demi meminimalkan jumlah korban jiwa akibat bencana.

Lasarus menginstruksikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk segera melengkapi fasilitas pemantauan dari Sabang sampai Merauke. Ia menegaskan bahwa kemampuan manusia dalam memodifikasi cuaca ekstrem memiliki batasan tertentu pada saat ini.

“Oleh karenanya, menurut saya perlengkapan peralatan yang memungkinkan secara teknologi perlu disiapkan. Keadaan tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara empiris dan keilmuan,” ucap Lasarus.

Lasarus menggarisbawahi urgensi pengadaan alat tersebut menyusul rentetan bencana alam yang terus melanda wilayah Indonesia. Ia mengatakan bahwa data yang akurat dapat menjadi fondasi utama dalam penghitungan anggaran rehabilitasi fisik.

“Jadi PR bagi kita kebutuhan radar masih sangat besar. Masih ada kurang lebih 43 persen, ya, dari sekarang 57 persen yang sudah terpenuhi,” kata Lasarus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....