Kapitil Populer, KBBI Tetapkan Bukan Bahasa Baku
- 24 Jan 2026 16:49 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Bogor - Kepala Pusat Pengembangan, Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Dora Amalia mengatakan, kata Kapitil bukanlah istilah baku. Diketahui, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memasukkan antonim dari kata kapital, yaitu kapitil.
Kapitil sendiri berarti kecil (tentang huruf seperti A, B, C, dan seterusnya). Hal ini menunjukkan istilah dari huruf kecil pada penyebutannya.
"Kapitil itu ragam cakapan. Sehingga tidak diperuntukkan dalam tulisan ilmiah atau formal seperti berita dan lain-lain," kata Dora dalam Taklimat Media, di Bogor, Jawa Barat, Jumat, 23 Januari 2026.
Menurutnya, sejak masuk KBBI, kata kapitil telah menjadi kata yang populer. Bahkan menciptakan diskusi di media sosial seperti X dan TikTok.
Ia mengatakan, berbagai reaksi datang dari masyarakat. Tak baanvak yang merasa kata ini kurang cocok lantern dari sei penyebutan dirasa kurang pantas.
Namun di sisi lain, lanjut dia, kata ini berhasil mendapat respons positif dari masyarakat. Adanya kata kapitil menjadikan masyarakat lebih percaya terhadap perkembangan Bahasa Indonesia.
“Kami menunggu pemutakhiran pada April 2026 sambil melihat dinamika dalam masyarakat. Sebelum sampai pada hal itu, kita akan mengamati perkembangannya sampai pemutakhiran nanti," katanya, mengungkapkan.
Ia mengatakan, sejak pertama kali dibukukan, KBBI telah menerima 256.000-an usulan lema. Dari 181.293 di antaranya telah disunting, 75.181 lema diproses, 218 lema diarsipkan, 124.479 diterima, dan 38.298 ditolak.
"Usulan apakah entri itu masuk nonaktifkan, dibuang, atau tidak, itu dibicarakan dalam rapat redaksi. Kami rutin rapat redaksi agar segala persoalan yang muncul diketahui tim redaksi," ujarnya.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muhsin (Tengah) Bergama Kepala Pusat Pengembangan, Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Dora Amalia (keda dari kiri) dan Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen) Muhammad Yusro (kedua dari kanan) dalam Talimat Media Bergama Forum Wartawan Pendidikan di Gedung Arjuna, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Jumat, 23 Januari 2026. (Foto: RRI/Rini Hairani)
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muhsin mengatakan, fungsi utama KBBI mencatat bahasa yang hidup. Menurutnya, bahasa Indonesia terbentuk dari beragam pengaruh termasuk bahasa daerah dan asing.
Meski dipengaruhi banyak bahasa, KBBI tetap produk intelektual bangsa Indonesia. “Kamus tidak bersifat kaku, ia hidup, dinamis, dan mengikuti perkembangan masyarakat,” kata Hafiz.
Ia menekankan, kreativitas berbahasa, termasuk penggunaan bahasa gaul, merupakan fenomena yang tidak bisa diabaikan. Sebagian bentuk bahasa tersebut telah dicatat dalam KBBI sebagai bukti rekam realitas bahasa.
KBBI hadir untuk merekam realitas bahasa, bukan menghakimi penggunanya. Hal ini menunjukkan kamus juga berperan sebagai cermin perkembangan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....