Mengenal Bibit Siklon 91s dan Dampak yang Ditimbulkan
- 24 Jan 2026 13:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem terkait kemunculan bibit siklon tropis 91s. Fenomena ini muncul saat Indonesia tengah memasuki masa pancaroba atau peralihan musim hujan menuju kemarau.
Bibit siklon tersebut umumnya berkaitan dengan meningkatnya curah hujan, angin kencang di wilayah pesisir, serta gelombang tinggi di perairan. Kondisi ini tentu membuat masyarakat perlu memahami karakter dan potensi dampak yang dapat ditimbulkan.
BMKG menyampaikan, bibit siklon tropis merupakan fase awal terbentuknya siklon tropis. Tahapan ini biasanya ditandai adanya sirkulasi angin yang berputar disertai peningkatan pertumbuhan awan konvektif.
Untuk kode 91S digunakan sebagai penanda sementara oleh lembaga meteorologi untuk memantau sistem gangguan cuaca tersebut. Bibit siklon tropis 91S dipahami sebagai cikal bakal badai laut berpotensi memicu hujan lebat serta angin kencang di Indonesia.
Kecepatan angin pada fase bibit siklon ini umumnya berada di kisaran 15 hingga 34 knot. Dalam kondisi atmosfer yang mendukung, kekuatan angin berpeluang meningkat hingga melampaui 35 knot.
Melansir akun Instagram @infobmkg, bibit siklon tropis 91S terpantau berkembang di Samudra Hindia selatan NTT sejak 16 Januari 2026. Namun, sistem tersebut kini telah dinyatakan melemah
Penurunan ini dipicu karena berkurangnya dukungan parameter atmosfer yang diperlukan. Sehingga bibit siklon tropis 91S tidak lagi berpotensi berkembang menjadi siklon tropis sejak 22 Januari 2026 pukul 01.00 WIB.
Meski demikian, keberadaannya sempat menimbulkan sejumlah dampak cuaca. Adapun dampak yang dapat ditimbulkan dari kemunculan bibit siklon tropis 91S antara lain:
1. Peningkatan Frekuensi Hujan Lebat
Kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S berpotensi memicu pembentukan awan-awan berukuran besar. Proses ini terjadi seiring meningkatnya kelembapan udara di lapisan atmosfer.
Kondisi atmosfer yang tidak stabil membuat pertumbuhan dan pergerakan awan menjadi lebih intens. Saat memasuki wilayah Indonesia, awan tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas lebat.
2. Risiko banjir dan longsor
Hujan lebat yang terjadi dalam durasi panjang berpotensi menimbulkan berbagai kerugian. Dampaknya meliputi gagal panen, bencana banjir dan tanah longsor, serta kerusakan ringan pada infrastruktur di sejumlah wilayah.
3. Angin kencang
Bibit Siklon Tropis 91S berpotensi memicu angin kencang akibat perbedaan tekanan udara, rotasi bumi, serta interaksi antarsistem angin. Meski belum berkembang menjadi siklon tropis, kondisi ini dapat meningkatkan kecepatan angin, khususnya di wilayah pesisir dan sekitarnya.
4. Menyebabkan Gelombang Laut Meninggi
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S dapat memicu kenaikan tinggi gelombang laut seiring menguatnya angin di perairan. Dampak ini berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat hingga selatan Indonesia dengan gelombang mencapai kisaran 2,5 hingga 4 meter.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dinamika cuaca selama masa pancaroba. Pemantauan informasi cuaca secara berkala menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....