Komoditas yang Biasanya Dorong Inflasi Ramadan Versi BPS

  • 20 Jan 2026 06:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Puji Ismartini memaparkan, komoditas penyumbang inflasi Ramadan. Daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit kerap memberi andil inflasi.

Puji menyebut, kenaikan harga komoditas tersebut muncul berulang pada momen awal Ramadan. Pola ini menjadi pengingat untuk antisipasi pengendalian harga.

"Ini komoditas-komoditas ini mungkin dapat segera kita antisipasi. Kita sudah mulai masuk atau mulai memasuki bulan Ramadan di bulan depan ini," katanya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin 19 Januari 2026.

Bawang merah menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada Ramadan 2025 lalu. Komoditas berikutnya adalah ikan segar, cabai rawit, daging ayam ras, dan beras.

Selain penyumbang inflasi, terdapat komoditas yang memberi andil deflasi. Deflasi terjadi pada beberapa komoditas hortikultura.

Komoditas yang tercatat memberi andil deflasi antara lain cabai rawit dan bawang merah. Cabai merah dan tomat turut menahan inflasi.

BPS menekankan pemahaman pola ini penting menjelang Ramadan. Langkah antisipasi difokuskan pada komoditas pangan utama.

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri), Tomsi Tohir mengingatkan inflasi selalu naik menjelang Lebaran. Namun, kenaikan berlebihan dinilai tidak wajar dan harus dicegah.

"Kita sudah mengalami tahun ke tahun setiap mau lebaran naik, kalau naik aja enggak apa-apa, ini naik tinggi," katanya.

Ia menjelaskan, inflasi bulanan normal berada di kisaran 0,3 persen. Saat Lebaran 2025, inflasi melonjak hingga 1,6 persen.

Kenaikan tersebut mencapai lebih dari lima kali lipat. Lonjakan terjadi hampir pada seluruh komoditas.

Tomsi menyoroti kenaikan harga yang dinilai keterlaluan. Beberapa harga melonjak hingga tiga sampai empat kali lipat.

Ia memberi contoh harga Rp30 ribu naik menjadi Rp120 ribu. Lonjakan tersebut mendekati empat kali lipat.

Menurutnya, kenaikan harga masih wajar jika persentasenya terkendali. Namun, lonjakan berlipat ganda dinilai merugikan masyarakat.

Tomsi menegaskan, pemerintah berupaya mencegah kenaikan tak wajar. Pengendalian dilakukan menjelang dan selama periode Lebaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....