Pengamat Dorong Penggunaan Teknologi Pertanian Jaga Swasembada Beras
- 08 Jan 2026 10:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Kusnan mengapresiasi capaian swasembada beras nasional yang dinilainya berhasil. Menurutnya, produksi beras yang mencapai sekitar 44 juta ton itu, dipengaruhi kondisi iklim yang mendukung.
Namun, Kusnan mengingatkan ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada faktor iklim. Menurutnya, teknologi pertanian yang adaptif sangat dibutuhkan untuk menghadapi ancaman kekeringan mendatang.
Salah satunya, lanjutnya, dengan pendekatan agroekologi yang akan menjadi solusi menjaga produktivitas dan ekosistem. “Agroekologi meningkatkan efisiensi sumber daya dan menjaga keseimbangan ekosistemnya,” katanya saat dialog bersama Pro3 RRI, di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Ia juga menyebut, agroekologi tidak membutuhkan banyak air, karena mengandalkan beberapa sumber daya. Kusnan mengatakan, sistem ini memanfaatkan mikrobiologi tanah dan pemantauan kondisi lahan secara presisi.
“Teknologi ini membantu petani bagaimana memahami kondisi lahan secara detail. Sehingga penggunaan air dan bumbu organiknya menjadi sangat efisien,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Bustanul Arifin menilai capaian swasembada beras nasional penting secara strategis. Meski demikian, menurutnya keberhasilan tersebut harus diukur dari dampaknya terhadap kesejahteraan petani dan masyarakat secara umum.
Bustanul menyebut, data BPS per, Senin (5/1/20026), produksi beras 2025 mencapai sekitar 34,61 juta ton. Jika dilihat, ini melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang totalnya sekitar 31 juta ton.
“Jadi masih lebih dibanding konsumsi CK. Jadi boleh diklaim menjadi swasembada,” katanya.
Menurut Bustanul, capaian produksi saat ini sangat dipengaruhi cuaca yang bersahabat sepanjang 2025.
Ia mengingatkan pemerintah perlu bersiap menghadapi potensi bulan kering tahun 2026 dengan memperkuat irigasi dan inovasi teknologi pertanian. "Sehingga sistem pengairan yang untuk men-support produksi padi kita tetap akan terus berjalan dengan baik,” kata Bustanul. (Edelweis Davina Muchtar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....