Kemenbud Pastikan Buku Sejarah Indonesia Diakses Gratis Publik

  • 03 Jan 2026 15:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pemerintah memastikan buku sejarah Indonesia dapat diakses gratis oleh masyarakat dalam format digital PDF melalui laman resmi Kementerian Kebudayaan. Hal tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.

“Buku ini sekarang sudah jadi dan sedang dalam satu pemeriksaan akhir oleh editor umum. Setelah itu, kami harapkan bisa diakses publik dalam bentuk PDF secara gratis karena memang tujuan penyusunannya untuk masyarakat luas,” kata Fadli Zon saat diwawancara usai menghadiri Acara Gelar Wicara Sejarah di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Lebih lanjut, Fadli menjelaskan, proses finalisasi masih dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan teknis dalam naskah. Fadli menambahkan, waktu peluncuran versi digital buku sejarah ini bergantung pada rampungnya proses penyuntingan akhir oleh para editor jilid.

“Ini tahap penyisiran terakhir, biasanya masih ada typo atau salah ketik kecil, itu yang kita sempurnakan sebaik mungkin sebelum dipublikasikan. Begitu selesai, langsung kita unggah di website Kementerian Kebudayaan agar bisa diakses oleh siapa saja,” ucap Fadli Zon.

Selain itu, Fadli Zon menyampaikan bahwa pemerintah dalam waktu singkat berhasil menyusun buku Sejarah Indonesia “Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global”. Tahun 2026, kata Fadli Zon, pemerintah kembali merencanakan penulisan buku sejarah baru yang mengangkat periode penting 1945–1949.

“Dalam waktu yang sangat cepat, kita bisa menghasilkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Tahun 2026, kita juga merencanakan penulisan buku sejarah tentang satu periode yang sangat penting,” ujar Fadli Zon.

Fadli mengungkapkan bahwa periode 1945–1949 tidak tepat jika hanya disebut sebagai periode revolusi seperti yang kerap digunakan pihak Belanda. Menurut Fadli Zon, periode tersebut merupakan masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Kalau pihak Belanda menyebutnya periode revolusi. Kita mengatakan ini adalah periode perang mempertahankan kemerdekaan, yaitu 1945 sampai 1949,” ucap Fadli Zon menutup.

Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud Restu Gunawan mengatakan Gelar Wicara Sejarah menjadi bagian dari sosialisasi penulisan Buku Sejarah Indonesia. Restu menjelaskan, sosialisasi tersebut penting agar buku sejarah yang disusun dapat dimanfaatkan secara luas dalam dunia pendidikan.

“Ini bagian dari sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para guru bahwa pemerintah sudah menyusun Buku Sejarah Indonesia 10 jilid dan sudah kita soft launching. Pada waktunya, buku ini bisa digunakan oleh teman-teman guru, siswa, dan berbagai kalangan masyarakat sebagai rujukan sejarah Indonesia,” ujarnya.

Menurut Restu, keterlibatan guru dan masyarakat dalam mengenal buku sejarah ini sejak awal diharapkan dapat memperkuat pemahaman sejarah nasional yang lebih utuh dan berimbang.

“Kami ingin memastikan buku ini tidak hanya berhenti sebagai karya akademik, tetapi benar-benar hadir dan digunakan dalam proses pembelajaran sejarah,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....