Menteri Wihaji Ajak Para Ayah Ambil Rapor Sekolah

  • 19 Des 2025 16:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Suasana ruang kelas di SDN Pondok Bambu 11 tampak berbeda karena didominasi kehadiran para ayah yang mengambil rapor. Deretan pria dewasa duduk di bangku kecil milik anak mereka demi mengikuti anjuran Gerakan Ayah Mengambil Rapor.

Momen ini menjadi sangat istimewa karena biasanya urusan sekolah anak lebih sering didominasi oleh kehadiran sosok ibu saja. Kehadiran para ayah merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program kementerian dalam memperkuat ikatan emosional antara orang tua.

Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah atau GEMAR secara resmi dianjurkan melalui Surat Edaran Menteri Nomor empat belas. Kehadiran sosok ayah dalam momen krusial pendidikan anak bukan sekadar urusan administratif saja namun investasi masa depan.

Pemerintah mendorong keterlibatan laki-laki dalam ranah domestik untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan secara optimal dan seimbang. Kebijakan ini diharapkan mampu mengubah paradigma lama bahwa urusan pendidikan anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab seorang ibu.

GEMAR menjadi simbol pesan penting bahwa peran ayah sangat dibutuhkan oleh anak tidak hanya dalam urusan finansial semata. “Ini semangat kita untuk memperbaiki anak-anak kita lima hingga sepuluh tahun ke depan sebagai generasi penerus bangsa," katanya.

Ungkapan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Wihaji di depan para ayah yang sedang menunggu antrean konsultasi wali kelas. Ia menegaskan keterlibatan aktif orang tua laki-laki akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga tahun dua ribu dua puluh lima ditemukan fakta satu dari empat keluarga mengalami fatherless. “Prinsipnya GEMAR mencoba menjawab isu dua puluh lima koma delapan persen anak-anak kita yang kehilangan sosok ayah," kata dia.

Menteri Wihaji meminta para ayah minimal dua kali dalam setahun untuk mengambil rapor dan mengantar sekolah hari pertama. “Ini membuat senang hati anak,” kata Menteri Wihaji menekankan pentingnya kehadiran fisik orang tua laki-laki bagi kebahagiaan anak.

Menurutnya, interaksi sederhana ini memiliki dampak emosional yang sangat mendalam bagi kepercayaan diri serta motivasi belajar sang anak nantinya. Anak akan merasa lebih dihargai dan diperhatikan ketika ayahnya bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukan mencari nafkah.

Bagi anak-anak yang memang tidak memiliki sosok ayah kandung Menteri Wihaji juga memberikan solusi pengganti yang tepat. Kehadiran paman kakek atau kakak laki-laki dapat berperan sebagai figur ayah pengganti dalam proses pengambilan rapor sekolah.

Hal ini memastikan bahwa setiap anak tetap merasakan kehadiran sosok pelindung laki-laki dalam momen penting perjalanan pendidikan mereka. Semangat inklusivitas tetap dijaga agar tidak ada satu anak pun yang merasa minder atau kehilangan pegangan hidup.

Keterlibatan ayah di sekolah, kata dia, dapat memperkuat komunikasi antara orang tua dan pihak guru dalam memantau proses belajar anak. Ayah yang aktif memantau pendidikan remaja sangat membantu dalam meningkatkan motivasi belajar serta hasil prestasi akademik mereka.

Selain itu, lanjutnya, keterlibatan ini memberikan dampak psikologis yang sangat masif bagi stabilitas emosi tumbuh kembang anak sejak dini. Sinergi antara sekolah dan ayah menciptakan lingkungan pendukung yang kuat bagi pembentukan karakter positif generasi muda kita.

Seorang ayah di SDN 11 Pondok Bambu menyatakan rasa terima kasihnya atas inisiasi program GEMAR dari Kemendukbangga tersebut. Beliau mengaku sangat terbantu dengan arahan menteri untuk mengatasi isu ketiadaan figur ayah dalam kehidupan sehari-hari anak.

Implementasi program ini mulai dirasakan manfaatnya oleh banyak keluarga yang selama ini kurang menyadari peran penting ayah tersebut. Kesadaran kolektif para ayah mulai terbentuk untuk lebih proaktif dalam urusan domestik serta pendidikan formal anak mereka.

Orang tua tersebut juga menerapkan anjuran menteri untuk mengawasi penggunaan gawai yang dikhawatirkan menggantikan peran sosok sang ayah. Kedekatan fisik dan komunikasi intensif dianggap sebagai cara paling ampuh untuk menjauhkan anak dari kecanduan teknologi digital.

Ayah harus menjadi teman bicara yang lebih menarik dibandingkan layar gawai agar anak tetap memiliki keterampilan sosial baik. Pola asuh yang disiplin namun penuh kasih sayang menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental anak masa kini.

“Sampai hari ini anak saya tidak setiap hari pegang gawai karena kami menanamkan batasan waktu yang sangat tegas," kata dia. Penjelasan ini menunjukkan komitmen seorang ayah dalam mengarahkan anaknya agar hanya mengakses konten pengetahuan yang bermanfaat saja.

Anak hanya diperbolehkan menggunakan perangkat laptop atau gawai pada hari Jumat hingga Minggu dengan pengawasan ketat orang tua. Langkah ini diambil guna memastikan fokus belajar anak tetap terjaga tanpa terganggu oleh hiburan digital yang berlebihan.

Pihak SDN Pondok Bambu 11 dan SMAN 61 Jakarta menyambut baik kehadiran Menteri dalam kegiatan pembagian rapor. Kolaborasi lintas sektor antara kementerian dan instansi pendidikan sangat diperlukan untuk menyukseskan gerakan nasional yang sangat penting ini.

Sekolah menyediakan ruang konsultasi khusus agar para ayah dapat berdiskusi secara mendalam mengenai perkembangan akademik dan perilaku anak. Antusiasme guru terlihat meningkat saat melihat para ayah mulai peduli dan bertanya langsung tentang capaian hasil belajar anak.

Program GEMAR diharapkan terus konsisten dilakukan setiap semester demi menciptakan generasi emas Indonesia yang memiliki mentalitas yang kuat. Investasi waktu seorang ayah hari ini adalah kunci sukses bagi masa depan anak-anak di seluruh pelosok nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....