Mengulas Sejarah Hari Batik Nasional Indonesia Diakui UNESCO

  • 02 Okt 2025 08:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

​KBRN, Jakarta: Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya bangsa. Peringatan ini bermula dari pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya tak benda dunia. 

UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2 Oktober 2009. Keputusan diambil dalam sidang keempat Komite Antar-Pemerintah di Abu Dhabi. 

Presiden Keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, menetapkan Hari Batik melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009. Diumumkan pada 17 November 2009 sebagai bentuk kebanggaan nasional. 

Batik diakui bersama budaya Indonesia lainnya seperti wayang, keris, noken, dan tari Saman. Semuanya ditetapkan sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. 

Kementerian Dalam Negeri mengimbau pegawai pemerintah memakai batik saat Hari Batik Nasional. Seruan disampaikan melalui Surat Edaran yang berlaku di tingkat pusat hingga daerah. 

Sejarah batik Indonesia erat dengan kerajaan Majapahit dan Mataram. Awalnya batik digunakan dalam keraton sebagai busana keluarga kerajaan dan bangsawan. 

Batik kemudian berkembang di kalangan masyarakat umum dan diproduksi secara luas. Pewarna alami seperti soga, mengkudu, dan tanah digunakan dalam proses tradisionalnya. 

Teknik batik meliputi batik tulis, cap, dan printing. Setiap teknik mencerminkan nilai artistik dan kearifan lokal yang tinggi. 

Motif batik mencerminkan filosofi serta identitas budaya setiap daerah di Indonesia. Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan Cirebon memiliki motif khas yang dikenal luas. 

Batik kini menjadi bagian dari industri kreatif dan mode global. Dibawa ke  panggung fashion dunia seperti Milan dan New York untuk mencapai  pengakuan internasional. 

Peringatan Hari Batik Nasional memperkuat kebanggaan dan identitas bangsa Indonesia. Selain itu, momen ini juga mendorong pelestarian budaya lintas generasi. 

Masyarakat diimbau mengenakan batik sebagai wujud cinta budaya. Dengan begitu, batik tetap lestari dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari. (nadya syifa syauqiyah)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....