Mengenal STOVIA, Sekolah Kedokteran Pertama di Hindia Belanda
- 19 Mei 2025 13:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: STOVIA berasal dari Sekolah Dokter Djawa yang berdiri tahun 1851 atas gagasan Dokter Bosch dan dukungan pemerintah kolonial. Gubernur Jenderal Duymaer van Twist ingin mencetak tenaga medis bumiputera untuk mengatasi wabah tersebut.
Pendidikan ini dimulai 1 Januari 1851 di Rumah Sakit Militer Weltevreden oleh Dokter Pieter Bleeker. Sebanyak 12 pemuda Jawa mengikuti pelatihan dua tahun dengan pelajaran dasar hingga vaksinasi penyakit menular.
Pendidikan awal berlangsung di Rumah Sakit Militer Weltevreden dan memakai Bahasa Melayu sebagai pengantar. Materi pelajaran meliputi ilmu dasar, anatomi, vaksinasi, serta bedah ringan untuk penanganan penyakit menular.
Reorganisasi dilakukan berulang kali, termasuk memperpanjang masa belajar dan mengganti pengantar menjadi Bahasa Belanda. Perubahan bahasa pengantar membuat banyak siswa kesulitan belajar dan menyebabkan tingkat putus sekolah meningkat.
Pada 1898, sekolah ini berubah menjadi STOVIA, lembaga pendidikan dokter bumiputera dengan sistem lebih modern. STOVIA menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran UI dan bagian dari sejarah lahirnya universitas di Indonesia.
Dilansir dari Museum Kebangkitan Nasional, berikut adalah sejarah berdirinya STOVIA, dan pendirian Gedung STOVIA.
Dari Sekolah Dokter Jawa Menjadi STOVIA
STOVIA merupakan kelanjutan dari Sekolah Dokter Jawa yang berdiri di Rumah Sakit Militer Weltevreden. Sekolah tersebut semula memakai fasilitas rumah sakit karena pengajarnya juga bertugas sebagai dokter di sana.
Aktivitas pendidikan mengganggu kenyamanan rumah sakit, sehingga sekolah dipindahkan dari lingkungan militer. Pada 1899, Direktur H.F. Rool mulai membangun gedung baru di dekat rumah sakit tersebut.
Pembangunan sempat terhenti karena kekurangan dana, namun Rool terus berjuang mencari bantuan finansial. Dengan dukungan pengusaha dari Deli, gedung baru dan asrama selesai pada September 1901.
Gedung mulai digunakan resmi pada 1 Maret 1902 sebagai tempat belajar dan tinggal pelajar kedokteran. Fasilitas lengkap dan lingkungan asri menjadikan gedung ini tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Perubahan sistem pendidikan membuat Sekolah Dokter Jawa menjadi STOVIA dengan masa belajar sembilan tahun. Lulusannya bergelar Inlandsche Arts dan ditempatkan di daerah terpencil untuk menangani penyakit menular.
Pada 1920, STOVIA pindah ke gedung baru di Salemba karena gedung lama dianggap tidak memadai. Akhirnya, gedung STOVIA lama digunakan untuk sekolah MULO setelah kegiatan pendidikan dipindahkan seluruhnya.
Peresmian Gedung STOVIA
Gedung STOVIA mulai dibangun pada 1899 oleh korps Zeni di tanah seluas 15.742 meter persegi. Lokasinya berada di Gang Manjangan, kawasan Weltevreden, yang kini bernama Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh, Jakarta.
Pembangunan sempat terhambat karena minimnya dana dari pemerintah kolonial Belanda yang mendukung proyek tersebut. Dr. HF Roll kemudian menggalang dana dari dermawan seperti PW Jansen, J. Nienhuys, dan HC. Van den Honer.
Dana yang terkumpul mencapai 178.000 dan cukup untuk menyelesaikan pembangunan gedung yang diresmikan pada 1902. Karena dibangun militer, gaya arsitekturnya kokoh dan cenderung kaku, menyerupai benteng pertahanan.
Bangunan STOVIA lebih menonjolkan fungsi dibanding estetika, seperti minimnya ruang transisi di bagian depannya. Jendela ganda khas Eropa digunakan, lengkap dengan kisi-kisi penahan dan lengkung sirkulasi udara.
Gedung ini menjadi saksi lahirnya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di Ruang Anatomi STOVIA. Dari sinilah semangat kebangkitan nasional bermula dan terus dikenang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. (Rafi Ghifari)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....