Efisiensi Pengadaan Barang Jasa, Pemerintah Luncurkan E-Katalog 6.0

  • 10 Des 2024 22:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Presiden Prabowo Subianto meluncurkan katalog elektronik (e-katalog) versi 6.0. Peluncuran ini sebagai bagian dari langkah strategis dalam mendorong transparansi dan efisiensi pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Presiden berharap e-katalog versi 6.0 tersebut dapat membawa perubahan signifikan dalam sistem pengadaan barang dan jasa di Indonesia. Kepala Negara-pun mengimbau kepada seluruh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk memanfaatkan katalog tersebut awal tahun 2025.

“Semua kementerian lembaga dan pemerintah daerah wajib memanfaatkan katalog elektronik versi 6 ini mulai 1 Januari 2025. Katalog ini versi 6 diharapkan dapat mengurangi 20-30 persen biaya pengadaan, menurunkan biaya administrasi sampai dengan 40-50 persen,” kata Presiden dalam acara penyerahan secara digital Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Alokasi Transfer ke Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2025 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/12/2024).

Presiden juga menyoroti pentingnya efisiensi dalam pengelolaan ekonomi nasional dengan mengacu pada incremental capital output ratio (ICOR). Menurut Presiden, berdasarkan penilaian tersebut, nilai ketidakefisienan Indonesia masih lebih tinggi dari beberapa negara tetangga.

“Bahkan, tidak efisiennya itu dinilai 30 persen. Diharapkan dengan penggunaan e-katalog ini, ketidakefisienan ini dapat kita kurangi,” katanya.

Oleh karena itu, Presiden mengapresiasi upaya seluruh pihak yang mendorong upaya efisiensi kinerja dengan menghadirkan e-katalog versi 6.0. Presiden juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan pemerintahan yang bersih dengan pengelolaan dan kepemimpinan yang baik.

Hal yang sama disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Sejak penerapannya, hingga Desember 2024, digitalisasi belanja negara melalui e-katalog telah mengakumulasi transaksi pemerintah mencapai Rp50 triliun.

"Sampai dengan Desember 2024 digitalisasi belanja negara melalui e-katalog telah mencapai akumulasi pemerintah hingga Rp50 triliun dari berbagai sektor. Serta menurunkan biaya operasional hingga 40 persen dalam proyek," kata Luhut.

"Ini adalah manfaat nyata dari sistem e-Katalog,” kata Luhut. Menurutnya, digitalisasi bukan hanya menguntungkan dalam hal efisiensi biaya, tetapi juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran negara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....