Dilarang Dipakai di Pernikahan, Kenali Filosofi Batik Lereng

  • 07 Des 2022 07:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Tamu yang menghadiri tasyakuran pernikahan Putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep dilarang menggunakan batik bermotif parang. Larangan itu berlaku saat masuk kawasan Puro Mangkunegaran.

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming menjelaskan aturan pelarangan pakai batik parang lereng bukan dari keluarganya. Melainkan dari pihak Pura Mangkunegaran sendiri.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut sejarah batik parang atau lereng:

Batik Parang adalah salah satu motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata Pereng yang berarti lereng.

Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan.

Kemudian, bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tidak pernah padam. Batik ini merupakan batik asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo).

Batik motif parang hanya boleh dikenakan oleh keluarga keraton. Misalnya, raja, permaisuri, keturunannya, bangsawan, dan Bupati. Batik ini memang tidak digunakan oleh warga biasa.

Ketentuan ini pun berlaku di Yogyakarta dan Solo. Menurut adat Jawa, tidak cocok digunakan untuk ritual pertemuan dua sejoli yang hendak membangun rumah tangga.

Batik parang juga memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah. Ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak.

Batik tertua ini menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus. Baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.

Bahkan batik ini juga menggambarkan kain yang belum rusak, baik dalam arti memperbaiki diri. Juga kesejahteraan upaya mereka, serta bentuk hubungan di mana batik parang pada masa lalu adalah hadiah yang mulia untuk anak-anaknya.

Dalam konteks ini, pola berisi dewan orang tua untuk melanjutkan perjuangan parang dilanjutkan. Garis diagonal lurus melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai yang sebenarnya.

Dinamika dalam pola parang ini juga disebut ketangkasan dan kewaspadaan. Juga kontituinitas antara pekerja dengan pekerja lain.

Batik ini juga mempunyai beberapa jenis. Berikut jenis-jenisnya:

Parang Rusak

Motif ini merupakan batik yang diciptakan Penembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Motif batik ini terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam karang pantai.

Motif ini melambangkan manusia yang internal melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan mereka sehingga mereka bijaksana. Juga mempunyai watak mulia karakter yang akan menang.

Parang Barong

Motif ini merupakan motif yang mempunyai ukuran yang lebih besar dari parang rusak, yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Motif ini memiliki makna pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus-menerus, kebijaksanaan dalam gerak, dan kehati-hatian dalam bertindak.

Parang Klitik

Motif ini merupakan pola parang dengan stilasi yang halus. ukurannya pun lebih kecil dan juga menggambarkan citra feminim.

Motif ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasanya digunakan oleh para puteri raja.

Parang Slobog

Motif ini melambangkan keteguhan, ketelitian dan kesabaran, dan biasanya digunakan dalam upacara pelantikan. Motif ini mempunyai makna harapan agar pemimpin yang dilantik dapat mengemban dan menjalankan tugasnya dengan amanah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....