Harga Bitcoin Crash usai Serangan Militer AS dan Israel ke Iran

  • 28 Feb 2026 15:59 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Harga Bitcoin merosot ke kisaran USD65.000 dalam aksi jual akhir pekan, Sabtu 28 Februari 2026. Penurunan ini terjadi setelah reli singkat yang sempat membawa aset kripto terbesar tersebut mendekati level USD70.000 pada Rabu 25 Februari 2026.

Melansir dari Coindesk, pada awal perdagangan Asia, Bitcoin tercatat turun sekitar 3 persen dalam 24 jam terakhir ke level USD65.735. Secara mingguan, pelemahan mencapai 2,8 persen. Kenaikan yang sempat terjadi pertengahan pekan kini tergerus lebih dari separuhnya seiring memburuknya sentimen risiko global.

Altcoin mengalami tekanan lebih dalam. Solana turun 6,7 persen, Ethereum melemah 6,2 persen, Dogecoin terkoreksi 5,1 persen, dan XRP turun sekitar 4 persen. Sementara BNB relatif lebih stabil dengan penurunan 2,5 persen.

Tekanan terhadap kripto sejalan dengan pelemahan bursa saham Amerika Serikat pada Jumat 27 Februari 2026. Indeks S&P 500 ditutup turun 0,4 persen, Nasdaq 100 melemah 0,3 persen, dan Dow Jones Industrial Average merosot 1,1 persen. Saham Nvidia juga kembali terkoreksi 4,2 persen setelah laporan pendapatannya.

Data harga produsen AS yang naik 0,5 persen, lebih tinggi dari perkiraan, memicu kekhawatiran tekanan inflasi masih kuat. Kondisi ini dinilai dapat menunda rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Kekhawatiran pasar juga bertambah setelah laporan pemutusan hubungan kerja di Block Inc..

Meski demikian, arus dana institusional menunjukkan tren positif. ETF Bitcoin spot di AS mencatat tambahan dana sekitar USD1,1 miliar dalam tiga hari terakhir, menjadikannya salah satu pekan terbaik dalam beberapa bulan terakhir. Namun, arus masuk tersebut belum mampu menahan tekanan makroekonomi global.

Data dari CryptoQuant menunjukkan cadangan stablecoin USDT di bursa turun dari USD60 miliar menjadi USD51,1 miliar dalam dua bulan terakhir. Jika cadangan turun di bawah USD50 miliar, analis memperingatkan potensi aksi jual lanjutan.

Tekanan juga dipicu faktor geopolitik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Ketegangan kawasan membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Saat ini, Bitcoin kembali bergerak di kisaran USD60.000–USD70.000 yang telah terbentuk sejak awal Februari. Level USD70.000 menjadi area resistensi kuat, sementara pelaku pasar kini menanti apakah batas bawah kisaran tersebut mampu bertahan memasuki bulan Maret.

Rekomendasi Berita