Tesla Lengser dari Raja Mobil Listrik, Ini Penggantinya
- 04 Jan 2026 19:24 WIB
- Nabire
KBRN, Nabire: Produsen otomotif, Tesla Inc., kehilangan posisi sebagai penjual mobil listrik terbesar di dunia setelah disalip produsen asal China, BYD Co. Pergeseran ini menandai berakhirnya dominasi Tesla yang selama satu dekade terakhir menjadi pelopor kendaraan listrik plug-in di pasar global.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, perusahaan asal Amerika Serikat itu melaporkan penurunan pengiriman kendaraan sebesar 16 persen pada kuartal keempat 2025, lebih rendah dari perkiraan analis. Sepanjang tahun, penjualan Tesla turun hampir 9 persen, mencatatkan penurunan tahunan untuk tahun kedua berturut-turut.
Sebaliknya, BYD justru mencatatkan kinerja positif. Sepanjang 2025, perusahaan asal China tersebut mengirimkan hampir 2,26 juta kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Jumlah itu jauh melampaui Tesla yang hanya membukukan pengiriman sekitar 1,64 juta unit.
Meski kehilangan posisi puncak, penurunan peringkat Tesla di pasar global kendaraan listrik tidak serta-merta mengguncang kepercayaan investor. Hal ini seiring dengan perubahan fokus perusahaan di bawah kepemimpinan Elon Musk yang kini lebih menitikberatkan pengembangan kecerdasan buatan (AI), kendaraan otonom, dan robot humanoid.
Elon Musk dalam beberapa waktu terakhir mengalihkan sorotan dari bisnis inti kendaraan listrik dengan menonjolkan kemajuan proyek layanan robotaksi. Strategi ini dinilai krusial memasuki 2026, mengingat prospek permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat, pasar terbesar Tesla, menghadapi tantangan.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menghentikan insentif federal untuk pembelian kendaraan listrik plug-in serta memperketat kebijakan efisiensi bahan bakar dan emisi. Kebijakan tersebut sebelumnya menjadi sumber pendapatan miliaran dolar bagi Tesla.
“Pengiriman hampir tidak lagi menjadi faktor utama,” kata analis Alexander Potter dalam catatan risetnya. Ia menilai kinerja saham Tesla pada 2026 justru akan lebih ditentukan oleh kemajuan perusahaan di bidang kecerdasan buatan dan robotika.
Pandangan serupa disampaikan analis William Blair, Jed Dorsheimer, yang menyebut Wall Street telah mengantisipasi tekanan terhadap Tesla setelah berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik di AS. Menurutnya, valuasi Tesla kini hampir sepenuhnya bergantung pada transformasinya menuju penerapan AI di dunia nyata.
Dari sisi pasar modal, saham Tesla tercatat turun 2,8 persen pada perdagangan Jumat waktu New York. Meski demikian, sepanjang 2025 saham Tesla masih mencatat kenaikan sekitar 11 persen, meski terkoreksi dari rekor tertinggi yang dicapai pada pertengahan Desember.
Sementara itu, BYD terus memperlebar jarak dengan Tesla, tidak hanya di China tetapi juga di pasar Eropa. Dalam 11 bulan pertama 2025, penjualan BYD tercatat melampaui Tesla di Jerman dan Inggris, dua pasar kendaraan listrik terbesar di Eropa. Penjualan Tesla di kawasan tersebut bahkan turun 28 persen, dengan penurunan tajam tercatat di Prancis, Spanyol, dan Swedia pada Desember.