Desa di Aceh Utara Porak-Poranda Seperti Tsunami

  • 04 Des 2025 12:28 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh: Derasnya air yang menghantam permukiman di Kabupaten Aceh Utara dalam beberapa hari terakhir digambarkan para penyintas sebagai “bergulung-gulung seperti tsunami.” Laporan penelusuran lapangan yang dilakukan relawan menunjukkan betapa cepat dan dahsyatnya banjir bandang yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Langkahan dan wilayah sekitarnya.

Di Desa Alue Krak Kayee, kondisi tampak porak-poranda. Jalan dan jembatan yang selama ini menjadi akses utama warga terputus, sebagian tertimbun lumpur, sebagian lagi hanyut terseret arus. Rumah-rumah rusak berat, menyisakan rangka bangunan, sementara barang-barang rumah tangga hampir tidak ada yang bisa diselamatkan.

Lumpur setinggi betis hingga lutut menutup halaman-halaman rumah, menyulitkan warga saat kembali melihat sisa harta benda mereka.

Situasi serupa terjadi di Desa Langkahan dan Geudumbak. Banyak rumah warga rusak parah akibat hantaman air yang datang deras dari arah tanggul irigasi yang jebol.

Warga bercerita bahwa air datang disertai suara gemuruh keras, membuat mereka panik dan berlarian keluar rumah tanpa sempat menyelamatkan barang sedikit pun. Kebun dan lahan pertanian warga ikut rusak, tertimbun lumpur serta pepohonan yang terbawa arus.

Di Desa Tanjong Dalam Selatan, kondisi lebih memilukan. Rumah-rumah warga hilang tersapu banjir bandang yang datang tiba-tiba pada malam hari.

Persawahan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat hancur tak bersisa, menyisakan hamparan lumpur dan serpihan kayu. Banyak warga hanya bisa memandang lahan mereka yang kini tak lagi dikenali.

“Ie cukop teuga dek ji ek (air sangat cepat naiknya, Dek),” tutur seorang ibu kepada relawan. Suaranya bergetar saat mengenang momen ketika air mulai menerjang.

“Hana sampeu meu ba dek, tok bajee saboh di badan (Enggak sempat bawa apa-apa, cuma baju satu yang dipakai),” tambahnya lirih.

Di titik lain, seorang warga lanjut usia menggambarkan detik-detik saat arus menerjang desa. “Lagee tsunami dek, meugulong-gulong ie (Seperti tsunami, Dek… air bergulung-gulung),” ujarnya, memvisualisasikan bagaimana massa air bercampur kayu, batu, dan puing menghantam rumah-rumah warga.

Penelusuran pada Senin (1/12/2025) dilakukan di sepanjang jalur Langkahan–Lhoknibong–Lhoksukon–Cot Girek. Reporter sekaligus relawan GEN-A, Wahyu Wahidin, menyebutkan bahwa akses ke sejumlah titik masih terisolasi akibat jembatan amblas dan badan jalan yang rusak parah.

“Banyak warga masih syok dan menunjukkan bekas air di dinding rumah sebagai tanda betapa tinggi banjir naik,” ujarnya dalam laporannya.

Sejumlah keluarga belum dapat kembali ke rumah karena kondisi bangunan tidak lagi layak huni. Mereka sementara mengungsi di rumah kerabat atau titik aman yang masih dapat dijangkau, meski fasilitas sangat terbatas.

Relawan menekankan perlunya dukungan cepat untuk pemulihan awal, terutama penyediaan kebutuhan dasar dan pembukaan akses jalan. Meski kerusakan cukup luas, solidaritas warga terlihat kuat, dengan banyak keluarga saling membantu dan menampung pengungsi.

Sementara itu, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama jejaring relawan dan berkolaborasi dengan Mata Garuda Aceh telah melakukan penggalangan dana serta distribusi bantuan darurat. Bantuan diprioritaskan untuk kebutuhan pangan, air bersih, perlengkapan kebersihan, dan pakaian layak pakai.

GEN-A dan Mata Garuda Aceh mengajak masyarakat luas untuk terus menyalurkan dukungan guna membantu percepatan pemulihan warga terdampak banjir bandang di Aceh Utara. Penulis: Tim Media dan Pemberitaan GEN-A

Rekomendasi Berita