Eksistensi Kopi Muting di tengah Dominasi Raksasa Sawit

  • 30 Sep 2026 07:32 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Di tengah lanskap perkebunan yang kian didominasi sawit “raksasa”, kopi Robusta masih tumbuh dan dirawat di Kampung Seed Agung. Kampung yang dihuni sebagian masyarakat transmigran asal Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 1995 ini menyimpan sebuah praktik pertanian yang telah bertahan lebih dari tiga dekade, ini menjadi sebuah pengingat bahwa perubahan lanskap ekonomi tidak selalu menghapus jejak sejarah agraria masyarakat.

Keberadaan kelompok tani kopi tersebut menjadi salah satu temuan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (TEP UGM) 2026 dalam kegiatan pemetaan potensi komoditas di Kawasan Transmigrasi Muting. Di tengah semakin kuatnya sawit sebagai komoditas perkebunan, kopi Robusta menunjukkan eksistensinya sebagai komoditas yang masih dipertahankan oleh sebagian kelompok tani di Seed Agung.

Masyarakat transmigran asal NTB yang datang ke Muting pada 1995 membawa pengalaman dan pengetahuan bertani dari daerah asalnya. Kopi Robusta kemudian menjadi salah satu tanaman yang dibudidayakan dan hingga kini masih eksis dirawat oleh kelompok tani setempat.

Keberadaan kopi tersebut menjadi bagian dari perjalanan masyarakat dalam membangun kehidupan di wilayah Transmigrasi Muting. Namun eksistensi kopi Muting tidak lepas dari tekanan perubahan.

Sebagian petani di kawasan ini telah beralih ke sawit, yang kemudian berkembang menjadi komoditas dominan dalam lanskap perkebunan setempat. Pergeseran ini menghadirkan pertanyaan mendasar: bagaimana komoditas lokal seperti kopi dapat tetap memiliki tempat dan nilai ekonomi di tengah dominasi komoditas skala besar.

"Yang paling membekas bagi Tim Ekspedisi Patriot saat berjumpa dengan petani kopi di Seed Agung bukanlah data produksi atau luas lahan, melainkan cara mereka bercerita tentang pohon-pohon kopi yang mereka rawat. Ada petani yang menanam bibit itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di Muting pada 1995 — pohon yang tumbuh bersamaan dengan anak-anak mereka, bersamaan dengan rumah yang mereka bangun dari nol. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk merawat sesuatu yang hasilnya tidak selalu sepadan dengan harga sawit hari ini. Namun di situlah kami melihat sesuatu yang layak dihormati: kesetiaan pada satu jenis usaha tani, di tengah banyak tetangga yang telah berpindah ke komoditas lain. Bagi kami, ini bukan sekadar kisah tentang tanaman yang bertahan, tetapi tentang manusia yang memilih untuk terus merawat sesuatu yang menjadi bagian dari identitas dan sejarah hidup mereka. Tugas kami sederhana: memastikan kesetiaan itu tidak berakhir sia-sia, dengan membantu kopi mereka mendapatkan nilai yang layak.”

Bagi Tim Ekspedisi Patriot UGM 2026, kondisi tersebut menjadi celah untuk melihat potensi pengembangan kopi Muting melalui pendekatan yang berangkat dari kondisi masyarakat setempat. Alih-alih berhenti pada identifikasi potensi, temuan lapangan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui intervensi sederhana yang diarahkan untuk memperkuat proses pascapanen kopi di Muting.

Intervensi tersebut diarahkan tidak semata-mata untuk meningkatkan produksi kopi, tetapi untuk membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas kopi Muting di Seed Agung. Melalui penanganan pascapanen yang lebih baik, kopi yang selama ini dipertahankan oleh masyarakat setempat diharapkan memiliki peluang untuk memperoleh nilai ekonomis yang lebih baik.

Temuan lapangan Tim Ekspedisi Patriot UGM ini menjadi kisah kopi Robusta di Kawasan Transmigrasi Muting yang memperlihatkan bahwa perubahan lanskap perkebunan tidak selalu berarti hilangnya praktik pertanian yang telah lama dijalankan masyarakat.

Di tengah dominasi sawit sebagai “raksasa” baru dalam lanskap perkebunan Muting, kopi Robusta masih memiliki ruang untuk bertahan dan dikembangkan. Melalui Ekspedisi Patriot 2026, TEP UGM tidak hanya mendokumentasikan keberadaan kopi Muting di Seed Agung, tetapi juga berupaya membuka ruang bagi penguatan nilai komoditas tersebut.(Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (TEP UGM) 2026)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....