Dialog Indonesia-Denmark, PMKRI Soroti Perdamaian Papua

  • 11 Mei 2026 13:14 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI), periode 2024-2026, Susana Florika Marianti Kandaimu, menghadiri dialog Interfaith 4 Tahun Indonesia-Denmark yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada 4 Mei 2026.

Kehadiran PP PMKRI dalam forum tersebut menjadi bagian dari keterlibatan organisasi mahasiswa dalam mendorong dialog lintas agama dan penguatan nilai perdamaian antarbangsa. Dalam kesempatan itu, Ketua PP PMKRI menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri RI atas undangan yang diberikan kepada PMKRI untuk berpartisipasi dalam dialog internasional tersebut.

“Terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri yang telah mengundang PMKRI untuk hadir dan terlibat dalam dialog ini,” ujar Susana.

Dalam sesi kedua dialog yang membahas isu perdamaian, Susana menyampaikan sejumlah pandangan dan masukan kepada pihak Kementerian Luar Negeri maupun para narasumber yang hadir. Ia menekankan pentingnya perhatian bersama terhadap situasi kemanusiaan di Papua.

Menurutnya, Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, hingga saat ini masyarakat Papua masih menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.

“Tanah Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun hari ini Papua membutuhkan dukungan kita bersama. Banyak pertumpahan darah terjadi, mama-mama meninggal, anak-anak meninggal, dan itu menjadi luka yang terus berlangsung di tanah Papua,” tegasnya di hadapan para peserta dialog.

Dalam forum dialog antar agama tersebut, Ketua PP PMKRI juga mendorong agar pendekatan dialog lintas iman tidak hanya berhenti pada wacana toleransi, tetapi juga diarahkan untuk membangun ruang dialog bersama demi terciptanya perdamaian di Papua.

Ia berharap seluruh pihak, termasuk tokoh agama, pemerintah, dan komunitas internasional, dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan kehidupan masyarakat Papua yang damai, baik dalam kehidupan sosial, bernegara, maupun kehidupan beragama.

Lebih lanjut, Susana berharap dialog serupa dapat kembali dilaksanakan di masa mendatang dengan fokus khusus pada isu perdamaian di Papua serta kerukunan umat beragama di wilayah tersebut.

“Harapan kami, ke depan ada dialog khusus yang membahas tentang kedamaian di tanah Papua dan kehidupan umat beragama di Papua, sehingga tercipta ruang bersama untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan," ditambahkan Susan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....