Ni Nyoman Suryani : Makna Yadnya
- 23 Feb 2026 07:21 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Merauke, Ni Nyoman Suryani, menyampaikan renungan dalam acara Mutiara Pagi Pro 1 RRI Merauke, Senin23Februari 2026, dengan tema pengorbanan (yadnya). Dalam pemaparannya, ia membahas makna yadnya dalam perspektif ajaran Agama Hindu sebagai bagian penting dari kehidupan umat beragama.
Dalam renungannya, Ni Nyoman Suryani mengacu pada ajaran suci yang tertuang dalam Reg Weda Mandala VIII.40.4 yang menyebutkan yajna sebagai pengorbanan. Ia menegaskan bahwa pemahaman tentang yadnya tidak boleh dipersempit hanya pada ritual atau upacara semata.
Ia menjelaskan bahwa dalam Kitab Suci Weda, yajna mencakup berbagai bentuk persembahan, seperti dana punia, jnana yajna atau persembahan ilmu pengetahuan, hingga pengorbanan jiwa dan raga yang disebut Atmawidhanam. Semua bentuk tersebut, menurutnya, merupakan implementasi nilai pengabdian yang tulus.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa yadnya mengandung unsur karya (perbuatan), sreya (ketulusan), budhi (kesadaran), dan bhakti (persembahan). Keempat unsur ini menjadi landasan utama dalam melaksanakan pengorbanan secara spiritual maupun sosial.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, pengorbanan dilakukan kepada Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia. Ketiga unsur tersebut, menurutnya, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga keharmonisan hidup.
Mengutip ajaran dalam Atharwa Weda XII.I.1, ia menjelaskan bahwa korban suci merupakan salah satu penyangga bumi. Mantram tersebut menegaskan pentingnya kebenaran, tapa brata, brahma, dan yajna sebagai penopang keberlangsungan dunia.
Ia juga menjelaskan tiga bentuk pengorbanan utama dalam ajaran Hindu. Pertama, Atmawidhanam, yakni pengorbanan jiwa dan raga untuk membela agama, bangsa, dan negara sebagai wujud penegakan dharma.
Kedua, pengorbanan kepada alam semesta melalui pelestarian lingkungan. Ia menyinggung program pemerintah melalui Bimas Hindu berupa Gerakan Green Dharma yang diwujudkan dengan penanaman pohon, pelepasan satwa, pengolahan sampah, dan pelestarian lingkungan pura.
Ketiga, pengorbanan kepada sesama manusia melalui pelaksanaan dana punia, terutama pada zaman Kaliyuga. Ia menekankan bahwa nilai utama bukan terletak pada besar kecilnya pemberian, melainkan pada ketulusan dan konsistensi dalam melaksanakannya.
Di akhir renungannya, Ni Nyoman Suryani mengajak umat untuk melaksanakan yadnya sesuai kemampuan dengan hati yang tulus, demi terwujudnya keselarasan antara Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....