Menjaga Harapan dari Kali Maro

  • 03 Feb 2026 10:14 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Fajar baru saja menyingsing di kawasan Jalan Gudang Arang, Merauke. Suara air yang mengalir pelan di Kali Maro berpadu dengan semilir angin pagi yang masih sejuk. Di tepi sungai itu, seorang pemuda tampak bersiap dengan perahu kecilnya, perahu sederhana yang menyimpan banyak kenangan. Namanya Tri Prasetyo Sugestiawan, 20 tahun, seorang nelayan tradisional sekaligus kakak yang memikul tanggung jawab besar di usia yang masih muda.

Setelah menunaikan salat subuh, hari Tri selalu dimulai dengan rutinitas yang sama. Ia menyiapkan pakaian dan bekal untuk adiknya yang masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Dengan telaten, ia memastikan semuanya siap sebelum akhirnya bergegas menuju sungai.

“Yang penting adik saya siap sekolah dulu. Itu sudah jadi tanggung jawab saya,” ujar Tri Prasetyo Sugestiawan.

Perahu kecil yang ia gunakan bukan sekadar alat mencari nafkah. Perahu itu adalah peninggalan orang tuanya, yang kini menjadi satu-satunya penopang hidup mereka berdua. Dengan perahu itulah, ia menyusuri Kali Maro sejak pagi, menjala ikan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaannya dimulai sekitar pukul tujuh pagi. Di atas air yang kadang tenang, kadang beriak, ia berjuang sendiri, mengandalkan tenaga dan pengalaman seadanya. Hingga sekitar pukul tiga sore, ia baru kembali ke daratan dengan hasil tangkapan yang tak selalu pasti.

“Kalau hasilnya bagus, bisa cukup untuk makan dan kebutuhan lain. Kalau tidak, ya harus cari cara lain,” katanya.

Cara lain itu sering kali ia temukan di kebun kecil miliknya. Di sela waktu, Tri menanam sayuran seperti kangkung, sawi, dan terong. Hasil kebun itu kemudian ia jual dengan cara berkeliling kampung.

“Kalau ada sayur, saya jual keliling. Lumayan untuk tambah-tambah,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Di tengah kesibukannya, Tri tak pernah melupakan kewajiban sebagai seorang muslim. Lima waktu salat tetap ia jaga, menjadi jeda di antara lelah dan perjuangan yang ia jalani setiap hari.

Bagi warga sekitar, sosok Tri bukanlah orang asing. Ia dikenal sebagai pemuda yang pekerja keras dan mudah bergaul. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap rendah hati dan terbuka kepada siapa saja.

Indra Alsian Mauw, sahabatnya, mengaku kagum dengan keteguhan Tri dalam menjalani hidup.

“Dia itu anaknya pekerja keras sekali. Dari pagi sudah berjuang, urus adiknya, cari nafkah. Tidak semua orang seusia dia bisa seperti itu,” kata Indra.

Menurut Indra, di balik sikapnya yang sederhana, Tri menyimpan semangat yang besar untuk masa depan. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga masa depan adiknya.

“Yang paling kelihatan itu kepeduliannya sama adiknya. Semua dia lakukan supaya adiknya tetap sekolah dan punya masa depan lebih baik,” tambahnya.

Simpati warga pun mengalir kepada Tri. Banyak yang melihat langsung bagaimana ia berjuang tanpa mengeluh, menjalani hari demi hari dengan penuh tanggung jawab.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat, Tri kembali menepi. Perahunya perlahan merapat ke tepian Kali Maro, membawa hasil yang mungkin tak seberapa, namun cukup untuk menjaga kehidupan tetap berjalan.

Langkahnya kemudian berlanjut ke rumah sederhana di Jalan Gudang Arang, tempat adiknya menunggu. Di sanalah semua lelahnya seakan terbayar, dalam tawa kecil, dalam cerita sederhana sepulang sekolah.

Di usia 20 tahun, Tri Prasetyo Sugestiawan mungkin belum memiliki banyak hal. Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga, keteguhan hati, rasa tanggung jawab, dan harapan yang terus ia jaga.

Dari perahu kecil di Kali Maro, ia tidak hanya mencari ikan. Ia sedang menjaga masa depan, satu hari demi satu hari, dengan keyakinan bahwa perjuangan tidak akan pernah sia-sia.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....