Muhammad Subekti : Fikir Perjananan

  • 16 Mar 2026 06:23 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Menjelang Hari Raya Idulfitri, banyak umat Muslim melakukan perjalanan jauh atau mudik ke kampung halaman. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai kebiasaan tahunan, tetapi juga sebagai sarana mempererat silaturahmi yang dianjurkan dalam ajaran Islam.

Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Subekti, S.Sy., M.H dalam renungan berbuka puasa Pro 1 RRI Merauke, Selasa 10 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa perjalanan jauh atau safar memiliki ketentuan khusus dalam syariat Islam, termasuk terkait pelaksanaan ibadah puasa.

Menurutnya, safar merupakan perjalanan jauh yang secara umum diperkirakan memiliki jarak sekitar 80 hingga 90 kilometer. Dalam kondisi tersebut, Allah SWT memberikan keringanan atau rukhsah kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 yang menjelaskan bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya pada hari lain. Ayat tersebut juga menegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi manusia dan tidak menghendaki kesulitan.

Dalam renungannya, Muhammad Subekti menyebutkan bahwa para ulama sepakat musafir boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Namun, pelaksanaannya bergantung pada kondisi perjalanan yang dialami seseorang.

Jika perjalanan tidak memberatkan, umat Muslim tetap diperbolehkan berpuasa. Hal ini mencontoh praktik Nabi Muhammad SAW yang pernah tetap berpuasa saat melakukan perjalanan.

Sebaliknya, jika perjalanan terasa berat karena faktor jarak, cuaca panas, atau kondisi yang melelahkan, maka berbuka puasa lebih dianjurkan. Hal tersebut didasarkan pada hadis Nabi yang menyatakan bahwa bukan termasuk kebaikan berpuasa dalam perjalanan jika menimbulkan kesulitan.

Ia juga menegaskan bahwa jika puasa dalam perjalanan berpotensi membahayakan kesehatan, seperti menyebabkan dehidrasi parah atau pingsan, maka seseorang diwajibkan berbuka demi menjaga keselamatan diri.

Ia menambahkan bahwa dalam perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan, para sahabat ada yang berpuasa dan ada pula yang berbuka. Keduanya tidak saling menyalahkan karena masing-masing menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi.

Muhammad Subekti berharap perjalanan mudik yang dilakukan umat Muslim menjelang Idulfitri dapat menjadi safar yang membawa keberkahan, keselamatan, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia juga mengingatkan agar umat Islam memanfaatkan keringanan syariat dengan penuh syukur tanpa meremehkan ibadah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....