Muhammad Subekti : Etika Belanja Online, Hutang dan Investasi

  • 09 Mar 2026 12:13 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Renungan berbuka puasa di Pro 1 RRI Merauke pada Jumat 06 Maret 2026 menghadirkan narasumber Muhammad Subekti, S.Sy., M.H yang mengangkat tema tentang etika muamalah di era digital, khususnya dalam belanja online, hutang, dan investasi. Dalam renungannya, ia mengajak umat Islam untuk tetap menjaga nilai-nilai syariah dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Menurutnya, ajaran Islam tidak hanya berkaitan dengan ibadah di masjid, tetapi juga mencakup aktivitas ekonomi dan sosial. Ia menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW juga dikenal sebagai pedagang yang menjunjung tinggi kejujuran dan etika dalam bertransaksi.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola muamalah masyarakat, termasuk dalam kegiatan belanja yang kini dilakukan secara daring. Kemudahan tersebut dinilai sebagai nikmat sekaligus ujian bagi umat Islam dalam mengendalikan keinginan.

Muhammad Subekti juga mengingatkan bahwa dalam belanja online terdapat sejumlah etika yang harus diperhatikan. Di antaranya memastikan kejelasan barang yang dibeli, memberikan ulasan secara jujur, serta menghindari perilaku boros saat memanfaatkan promo atau diskon.

Selain itu, ia menyoroti persoalan hutang piutang yang menurutnya harus dipandang sebagai solusi darurat, bukan gaya hidup. Hutang yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan baru, terutama jika mengandung unsur riba.

Muhammad Subekti juga mengingatkan pentingnya niat yang tulus untuk melunasi hutang. Dalam ajaran Islam, seseorang yang meninggal dunia masih memiliki tanggungan hutang hingga hutang tersebut dilunasi.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyinggung pentingnya investasi yang sesuai dengan prinsip syariah. Masyarakat diimbau untuk memilih instrumen yang halal serta menerapkan prinsip bagi hasil yang adil.

Diakhir renungannya, Muhammad Subekti mengajak pendengar terlebih khusus umat Islam untuk menjaga kebersihan muamalah dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa keberkahan harta tidak selalu diukur dari jumlahnya, tetapi dari manfaat dan ketenangan yang dihadirkannya dalam kehidupan.

Rekomendasi Berita