Roda yang Menguatkan Langkah Ibadah

  • 16 Mar 2026 13:32 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Langkah itu tak lagi sempurna.

Tubuhnya tak lagi kuat menopang perjalanan panjang seperti dulu.

Namun tekadnya, tetap berdiri tegak, bahkan lebih kuat dari kakinya sendiri.

Di antara lautan manusia berpakaian ihram di Tanah Suci, seorang perempuan asal Merauke menjalani ibadah haji dengan cara yang berbeda.

Namanya Siti Fatima.

Sejak stroke menyerang tubuhnya, berjalan bukan lagi hal yang mudah.

Setiap langkah terasa berat, bahkan mustahil tanpa bantuan.

Namun mimpi untuk menunaikan rukun Islam kelima tak pernah ia lepaskan.

Ia datang bukan dengan langkah kaki,

melainkan dengan roda yang mengantarnya menuju rumah Tuhan.

Siti Fatima : Ibadah dengan Tubuh yang Tak Lagi Sama

Di kursi rodanya, Siti Fatima memandang pelataran Masjidil Haram dengan mata yang berkaca-kaca.

Air mata itu bukan sekadar sedih, tapi juga syukur yang sulit dijelaskan dengan kata.

“Sa pikir, mungkin sa tidak bisa sampai sini, tapi Tuhan kasih jalan,” ucapnya lirih.

Stroke yang ia alami beberapa tahun lalu mengubah hidupnya.

Separuh tubuhnya melemah.

Gerakan yang dulu sederhana, kini menjadi perjuangan.

Namun satu hal yang tak berubah, keinginannya untuk berhaji.

Saat menjalani tawaf, ia tak berjalan mengelilingi Ka’bah seperti jemaah lain.

Ia didorong perlahan, mengikuti arus manusia yang tak pernah berhenti.

Di setiap putaran, ia memejamkan mata.

Berdoa dalam diam.

Menangis tanpa suara.

“Sa tidak bisa jalan, tapi hati sa jalan terus,” katanya pelan.

Di kursi roda itu, ia belajar bahwa ibadah bukan soal kuatnya tubuh,

tetapi tentang kuatnya niat dan keikhlasan.

Baharudin : Menjadi Kaki untuk Istri Tercinta

Di belakang kursi roda itu, ada sosok yang tak pernah lelah mendorong.

Baharudin, suami Siti Fatima.

Tangannya tak hanya menggenggam pegangan kursi roda,

tetapi juga menggenggam tanggung jawab dan cinta yang tak terucap.

“Kalau bukan sa yang dorong, siapa lagi, ini sudah janji hidup,” ujarnya.

Bagi Baharudin, perjalanan haji ini bukan sekadar ibadah pribadi.

Ini adalah perjalanan bersama, meski harus dijalani dengan cara yang berbeda.

Ia mendorong istrinya di tengah terik matahari.

Di antara padatnya jemaah dari seluruh dunia.

Tanpa mengeluh.

Kadang ia berhenti sejenak.

Bukan karena lelah, tetapi karena melihat istrinya menangis dalam doa.

“Sa cuma mau dia bisa ibadah dengan tenang, itu saja,” katanya.

Di Tanah Suci, cinta mereka berubah bentuk.

Bukan lagi sekadar kata-kata,

melainkan pengorbanan yang nyata di setiap dorongan roda.

Ada yang Tak Bisa Berjalan, Tapi Tetap Sampai

Kepala Seksi Bimbingan Haji Kantor Kementerian Agama Merauke, Amran Al Qasdijal, menyebut Siti Fatima bukan satu-satunya jemaah dengan kondisi serupa.

“Tahun ini ada tiga jemaah asal Merauke yang harus menggunakan kursi roda karena kondisi kesehatan,” jelasnya.

Menurut Amran, kondisi tersebut bukan penghalang untuk menunaikan ibadah haji.

Justru menjadi pengingat bahwa setiap orang punya jalan masing-masing untuk sampai.

Petugas haji pun memastikan seluruh jemaah, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik, tetap mendapatkan pelayanan maksimal.

“Mulai dari transportasi, pendampingan, hingga alat bantu seperti kursi roda, semua disiapkan agar mereka tetap bisa beribadah,” ujarnya.

Di tengah jutaan jemaah, mereka yang tak bisa berjalan tetap memiliki ruang untuk beribadah.

Tetap memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah.

Nilai Manfaat BPKH

Di balik roda yang membawa Siti Fatima, ada sistem besar yang bekerja dalam diam.

Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah, menjelaskan bahwa pengelolaan dana haji tidak hanya untuk keberangkatan semata.

Lebih dari itu, ada nilai manfaat yang dikembalikan untuk meningkatkan layanan bagi jemaah.

“Nilai manfaat ini digunakan untuk mendukung berbagai fasilitas jemaah, termasuk layanan bagi jemaah lanjut usia dan yang membutuhkan bantuan khusus seperti kursi roda,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada penyelenggaraan ibadah haji 2025, lebih dari 2.500 unit kursi roda disediakan untuk jemaah Indonesia di Tanah Suci, yang pengadaannya turut didukung melalui nilai manfaat pengelolaan dana haji oleh BPKH.

Kursi-kursi roda itu mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi jemaah seperti Siti Fatima, itu adalah jalan.

Itu adalah kaki.

Itu adalah harapan.

Di sanalah peran BPKH terasa nyata, bukan dalam bentuk angka,

melainkan dalam kemudahan yang dirasakan langsung oleh jemaah.

Roda yang Mengantar Doa

Kini, perjalanan itu telah usai.

Namun kenangan di Tanah Suci akan tinggal selamanya.

Siti Fatima mungkin tak berjalan seperti jemaah lainnya.

Namun ia tetap sampai.

Tetap berdiri, dengan caranya sendiri.

Di kursi roda itu, ia belajar menerima tubuhnya.

Dan di setiap doa, ia belajar menguatkan hatinya.

Sementara Baharudin, akan selalu mengingat perjalanan itu sebagai bukti cinta yang tak pernah menyerah.

Di balik perjalanan yang penuh keterbatasan itu, ada peran yang bekerja dalam diam.

Kursi roda yang mengantar langkah Siti Fatima, layanan yang memudahkan ibadahnya, hingga pendampingan selama di Tanah Suci, menjadi bagian dari manfaat pengelolaan dana haji yang dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Sebuah ikhtiar agar setiap jemaah, tanpa terkecuali, tetap bisa menjalankan ibadah dengan layak dan bermartabat.

Dan dari kisah ini, kita belajar,

bahwa menuju Tuhan tidak selalu harus dengan langkah kaki.

Kadang,

kita sampai,

dengan roda,

dengan air mata,

dan dengan hati yang tak pernah berhenti percaya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....