Ketika Kehilangan Suami di Tanah Suci

  • 16 Mar 2026 07:56 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Pagi itu, langkah Djumriah terasa lebih pelan dari biasanya.

Di antara ribuan jemaah yang berjalan dengan pakaian ihram, ia mencoba menyesuaikan ritme langkahnya dengan suaminya, lelaki yang selama ini menjadi teman hidupnya, dari tanah Merauke hingga ke Tanah Suci.

Mereka datang membawa harapan yang sama.

Berdoa bersama di depan Ka’bah.

Menangis bersama di Arafah.

Dan pulang bersama.

Namun tak semua doa tentang kebersamaan dijawab dengan cara yang sama.

Djumriah : Hari Itu, Langkah Kami Terpisah

Djumriah masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.

Hari ketika langkah mereka, yang sejak awal selalu berdampingan, tiba-tiba harus terpisah.

Suaminya bernama Slamet mulai mengeluh lelah. Awalnya hanya dianggap keletihan biasa, sesuatu yang wajar dalam perjalanan ibadah haji yang panjang dan menguras tenaga.

Namun kondisi itu memburuk dengan cepat.

“Sa pegang tangannya, dingin. Sa takut sekali waktu itu,” tuturnya lirih.

Di tengah hiruk pikuk jemaah dari berbagai negara, Djumriah hanya bisa berdoa.

Ia tak peduli lagi dengan keramaian di sekelilingnya.

Dunianya mengecil, hanya tersisa dirinya dan suaminya.

Ketika suaminya dibawa oleh petugas untuk mendapatkan perawatan, Djumriah masih sempat berharap, semuanya akan baik-baik saja.

Namun harapan itu perlahan berubah menjadi keikhlasan yang dipaksakan.

Hari itu, di tanah yang mereka impikan seumur hidup, suaminya dipanggil lebih dulu.

“Saya tidak sempat bilang apa-apa, semuanya terjadi begitu cepat,” ucapnya, menahan tangis.

Ahmad Nurung : Dari Rumah Sakit Hingga Peristirahatan Terakhir

Ketua rombongan 7 jemaah haji asal Merauke, Ahmad Nurung, menjadi salah satu yang mendampingi proses terakhir almarhum.

Ia menceritakan, suami Djumriah sempat dirawat di King Faisal Hospital Makkah, salah satu rumah sakit rujukan bagi jemaah haji di Kota Mekkah.

“Petugas medis sudah berusaha maksimal. Kami juga terus mendampingi dan berkoordinasi dengan tim kesehatan,” jelas Ahmad.

Namun takdir berkata lain.

Di ruang perawatan itulah, napas terakhir almarhum Slamet terhenti.

Setelah dinyatakan wafat, proses pemulasaraan hingga pemakaman dilakukan sesuai syariat dan prosedur yang berlaku di Arab Saudi.

Almarhum kemudian dimakamkan di Pemakaman Ma'la, sebuah pemakaman bersejarah di Kota Mekkah yang juga menjadi tempat peristirahatan banyak tokoh Islam.

“Semua proses berjalan dengan baik. Kami memastikan beliau dimakamkan dengan layak, di tempat yang mulia,” tambahnya.

Bagi Ahmad, peristiwa itu bukan hanya duka, tetapi juga pengingat bahwa setiap jemaah haji adalah tamu Allah yang bisa dipanggil kapan saja, di tempat yang paling suci.

Amran Al Qasdijal : Negara Hadir di Tengah Duka

Di balik peristiwa yang mengguncang hati itu, ada peran negara yang terus memastikan jemaah tidak berjalan sendiri.

Kepala Seksi Bimbingan Haji Kantor Kementerian Agama Merauke, Amran Al Qasdijal, menjelaskan bahwa setiap jemaah yang mengalami musibah akan mendapatkan pendampingan penuh.

“Mulai dari proses perawatan, pemakaman, hingga pendampingan bagi keluarga yang ditinggalkan, semuanya menjadi tanggung jawab petugas,” ujarnya.

Djumriah, yang harus melanjutkan ibadah dalam kondisi berduka, tidak dibiarkan sendirian.

Ada tangan-tangan yang menguatkan.

Ada suara-suara yang menenangkan.

Ada sistem yang memastikan ia tetap bisa menyelesaikan ibadahnya.

“Ini bagian dari komitmen kami, agar jemaah tetap terlindungi, baik secara fisik maupun mental,” kata Amran.

Fadlul Imansyah : Nilai Manfaat yang Menjaga Jemaah

Di balik perjalanan panjang ibadah haji, ada pengelolaan dana yang memberikan manfaat besar bagi jemaah Indonesia.

Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah, menjelaskan bahwa dana haji yang dikelola tidak hanya digunakan untuk biaya keberangkatan.

Lebih dari itu, dana tersebut memberikan nilai manfaat yang mendukung berbagai layanan penting, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga perlindungan jemaah.

“Nilai manfaat dari pengelolaan dana haji membantu meningkatkan kualitas layanan, termasuk perlindungan bagi jemaah dalam kondisi darurat,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan data penyelenggaraan ibadah haji 2025, total 446 jemaah haji Indonesia wafat di Tanah Suci, dan seluruhnya mendapatkan penanganan, layanan, serta perlindungan penuh sebagai bagian dari sistem pelayanan jemaah, yang juga didukung melalui nilai manfaat pengelolaan dana haji oleh BPKH.

Dalam situasi seperti yang dialami Djumriah, kehadiran sistem ini menjadi sangat berarti.

Ia tidak hanya beribadah, tetapi juga berada dalam perlindungan yang nyata.

Di Antara Air Mata dan Keikhlasan

Kini, Djumriah telah kembali ke tanah air.

Namun kepulangannya tak lagi utuh.

Bandara Mopah Merauke yang seharusnya menjadi tempat pertemuan kembali, justru menjadi saksi bisu bahwa ia harus berjalan sendiri.

Tak ada lagi suara yang memanggil namanya dari samping.

Tak ada lagi langkah yang menyamai langkahnya.

Yang tersisa hanyalah kenangan, tentang perjalanan suci yang mereka mulai bersama, namun tak mereka akhiri bersama.

Di balik duka itu, ada peran yang tak selalu terlihat.

Mulai dari saat suaminya mendapatkan penanganan medis, hingga proses pemulasaraan dan pemakaman di Tanah Suci, seluruhnya berjalan dalam sistem pelayanan jemaah yang turut didukung oleh nilai manfaat yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Sebuah bentuk kehadiran negara, yang memastikan setiap jemaah, bahkan hingga akhir hayatnya, tetap dimuliakan.

Di setiap sujudnya kini, Djumriah tak lagi hanya berdoa untuk dirinya.

Ia juga mengirimkan doa untuk seseorang yang ia cintai, yang telah lebih dulu sampai.

“Dia pergi di tempat yang paling mulia, saya harus ikhlas,” katanya pelan.

Dan dari kisah itu, kita belajar

bahwa haji bukan hanya tentang perjalanan menuju Tanah Suci,

tetapi juga tentang perjalanan hati, untuk menerima,

bahwa tidak semua yang berangkat bersama, akan pulang bersama.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....