Menjemput Jaminan Kesehatan dari Pintu ke Pintu

  • 31 Mar 2026 12:40 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Pagi baru saja merekah di Distrik Tanah Miring, Merauke. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang luas, sementara embun menempel di ujung-ujung daun padi. Di tengah suasana yang masih sunyi itu, seorang pemuda melaju perlahan dengan sepeda motor, menyusuri jalan tanah yang belum sepenuhnya rata.

Namanya Thadeus Arnuhu Suarubun. Usianya baru 25 tahun. Namun langkahnya sudah sejauh perjuangan yang tak semua orang sanggup jalani.

Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh besar yang dikenal luas. Tapi di Distrik Tanah Miring, namanya mulai akrab di telinga warga. Ia adalah petugas PESIAR BPJS Kesehatan Merauke, seorang yang memilih turun langsung ke lapangan, menjemput hak masyarakat akan jaminan kesehatan.

“Kalau kita tunggu mereka datang, banyak yang tidak akan sempat. Jadi saya yang harus datang,” ujar Thadeus.

Dengan tas sederhana di punggung dan berkas di tangan, ia mengetuk satu per satu pintu rumah warga. Tak peduli panas yang menyengat atau hujan yang mengguyur, ia tetap berjalan. Bahkan tak jarang, ia menyusuri pematang sawah, menemui petani yang sedang bekerja di tengah lumpur.

Bagi Thadeus, pekerjaannya bukan sekadar tugas administratif. Ia melihat langsung bagaimana masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya jaminan kesehatan. Ada yang ragu, ada yang belum tahu cara mendaftar, bahkan ada yang merasa itu bukan kebutuhan mendesak.

Di situlah ia hadir, menjelaskan, meyakinkan, sekaligus membantu.

“Kadang saya harus jelaskan pelan-pelan. Ada yang baru paham setelah beberapa kali saya datang,” katanya.

Perjalanannya tidak selalu mudah. Medan yang jauh, akses yang terbatas, hingga waktu yang sering kali tersita dari pagi hingga senja menjadi bagian dari kesehariannya. Namun ia tak pernah benar-benar berhenti.

Dari rumah ke rumah, dari kebun ke sawah, ia terus bergerak.

Hasilnya perlahan terlihat.

Kini, jumlah peserta BPJS Kesehatan di Distrik Tanah Miring hampir mencapai 100 persen. Angka yang bukan hanya statistik, tetapi juga cerminan dari kerja keras yang dilakukan tanpa banyak sorotan.

Bagi warga, kehadiran Thadeus bukan sekadar petugas. Ia adalah jembatan yang menghubungkan mereka dengan layanan kesehatan yang sebelumnya terasa jauh.

Indra Alsian Mauw, salah satu warga, merasakan langsung manfaatnya.

“Dia datang langsung ke rumah, jelaskan dengan sabar. Jadi kami yang awalnya tidak terlalu paham, akhirnya mengerti,” ujar Indra.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan Thadeus membuat masyarakat merasa lebih dekat dan tidak ragu untuk bertanya.

“Kalau hanya disuruh datang ke kantor, mungkin banyak yang tidak sempat. Tapi karena dia yang datang, jadi lebih mudah,” tambahnya.

Di balik capaian hampir 100 persen kepesertaan itu, ada langkah kaki yang tak pernah berhenti. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dikeluarkan, dan kesabaran yang terus diuji.

Thadeus mungkin tidak berdiri di atas panggung besar. Namanya mungkin tidak sering disebut. Namun di jalan-jalan kecil Tanah Miring, di antara rumah-rumah sederhana dan sawah yang membentang luas, ia telah menjadi bagian penting dari perubahan.

Ia percaya, kesehatan bukanlah kemewahan, melainkan hak yang harus dijangkau oleh semua orang, tanpa terkecuali.

Dan selama masih ada pintu yang belum diketuk, selama masih ada warga yang belum terdaftar, langkahnya akan terus berjalan.

Di tanah yang sunyi itu, seorang pemuda memilih untuk tidak diam.

Ia mengetuk, menyapa, dan memastikan, bahwa tak ada lagi yang tertinggal.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....