Tiga Moda, Satu Harapan

  • 08 Sep 2026 21:01 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi.

“Brmmm... brmmm... ngeng... ngeng...”

Suara mesin bersahutan.

Warga mulai bergerak menuju sekolah, tempat kerja, dan berbagai tujuan.

Di jalan, kendaraan membawa pekerja dan pelajar.

Di pelabuhan, kapal bersiap menyeberang.

Di bandara, penumpang menunggu giliran terbang menuju kabupaten lain.

Begitulah pagi di Merauke, Papua Selatan.

Provinsi paling selatan Tanah Papua ini memiliki empat kabupaten, Merauke, Mappi, Asmat, dan Boven Digoel.

Jarak dan kondisi geografis membuat masyarakat mengandalkan tiga moda transportasi, darat, laut, dan udara.

Setiap perjalanan punya cerita.

Ada jarak yang harus ditempuh, waktu yang harus dikejar, dan risiko yang harus dihadapi.

Namun semuanya berangkat dengan satu harapan,

tiba dengan selamat.

Laut Yang Menghubungkan

Bagi Markus Ogilin, laut adalah jalan yang menghubungkan Asmat dan Merauke.

Ia biasa menempuh perjalanan dengan kapal Pelni KM Tatamailau.

Jarak yang jauh membuat perjalanan bisa memakan waktu sekitar dua hari, ditemani suara mesin, angin laut, dan hamparan air yang tak berujung.

Di tengah perjalanan panjang itu, Markus selalu mengingat keselamatan.

“Kita tidak boleh isap rokok sembarang, kita harus pikir keselamatan, karena kita ada di tengah laut,” ujarnya.

Menurut Markus, keselamatan bukan hanya tanggung jawab nakhoda dan awak kapal.

Penumpang juga wajib mematuhi aturan, mengikuti arahan petugas, dan mengetahui langkah yang harus dilakukan saat keadaan darurat.

Di tengah laut, pengetahuan tentang keselamatan dapat menyelamatkan nyawa.

Perjalanan boleh memakan waktu dua hari.

Keselamatan harus selalu ikut berlayar.

Markus Ogilin ketika di wawancarai RRI saat berlayar menggunakan KM Tatamailau rute Asmat- Merauke. (Foto RRI)

Jalan Panjang Pendidikan

Cerita berbeda datang dari Ananias Kaipman.

Warga Boven Digoel ini cukup sering menempuh perjalanan darat menuju Merauke, terutama saat libur atau tidak ada perkuliahan.

Mobil menjadi bagian dari perjalanan panjang melalui Jalan Trans Papua yang bisa memakan waktu sekitar 12 jam.

Bagi Ananias, perjalanan sejauh itu membutuhkan pengemudi yang benar-benar siap.

“Kalau sopir mengantuk, sa bilang sopir, kita istirahat dulu, biar aman. Sa juga suruh sopir pakai sabuk pengaman,” ujarnya.

Kondisi tubuh harus fit.

Saat kantuk datang, berhenti dan beristirahat adalah pilihan paling aman.

Pengemudi juga wajib memiliki Surat Izin Mengemudi atau SIM serta mematuhi aturan lalu lintas.

Jalan Trans Papua boleh panjang.

Perjalanan boleh 12 jam.

Namun ketika kantuk datang, berhentilah.

Karena tujuan perjalanan bukan hanya sampai di Merauke, tetapi tiba dengan selamat.

Mengejar Waktu Di Udara

Di Mappi, perjalanan memiliki cerita lain.

Rudi Waimu cukup sering terbang menuju Merauke dan kembali ke Mappi.

Pekerjaan membuat waktu berharga, sehingga pesawat menjadi pilihan untuk memangkas perjalanan.

Namun keselamatan dimulai sejak di bandara.

Tiket dan identitas diperiksa, barang bawaan melewati pemeriksaan keamanan, lalu penumpang menuju ruang tunggu.

Saat boarding, tiket kembali dicocokkan.

Di dalam pesawat, sabuk pengaman dikenakan dan penumpang mengikuti petunjuk keselamatan serta arahan awak kabin.

“Kita tidak boleh bercanda bilang BOM di atas pesawat, nanti dong kasih turun kita,” ucapnya sambil tertawa.

Setelah mendarat, penumpang tetap mengikuti arahan awak kabin hingga pesawat berhenti.

Bagi Rudi, semua tahapan itu bagian dari perjalanan.

Dari bandara hingga tiba di tujuan, keselamatan harus selalu diutamakan.

Jalan Adalah Tempat Kerja

Bagi Jerry, jalan adalah tempat mencari nafkah.

Sebagai pengemudi ojek online di Merauke, hampir setiap hari ia membawa penumpang melewati persimpangan, lampu lalu lintas, dan berbagai kondisi jalan.

“Setiap dapat penumpang pasti sa suruh pakai helm, kita jangan hanya kejar uang saja, tapi harus pikir keselamatan juga,” ujarnya.

Bagi Jerry, helm, rambu, dan lampu lalu lintas adalah bagian penting untuk menjaga keselamatan.

Kesadaran itu juga membuatnya lebih aman bekerja.

Saat membawa penumpang, Jerry tahu, ada dua nyawa yang harus dijaga di atas satu kendaraan.

Keselamatan Dibangun

Keselamatan tidak cukup hanya diucapkan.

Di Merauke, upaya itu dimulai dari jalan.

Ada 11 traffic light yang mengatur pergerakan kendaraan, ditambah rambu dan lampu penerangan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Merauke, Broto Harnoko, mengingatkan masyarakat untuk menjaga fasilitas tersebut.

Kendaraan juga harus dipastikan layak jalan.

Kendaraan penumpang umum dan angkutan barang wajib menjalani pengujian KIR.

Namun kesadaran masyarakat masih rendah.

Operasi dan uji petik masih menemukan kendaraan yang belum memenuhi ketentuan atau belum melakukan KIR.

“KIR itu penting, karena semua di periksa, jadi kami bisa tahu mobilnya layak apa tidak,” ujarnya.

Dalam KIR, rem, lampu hingga tingkat kebisingan knalpot diperiksa secara digital.

Kendaraan yang memenuhi syarat mendapat kartu tanda lulus uji.

Layanan KIR berada di belakang Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Merauke, gratis dan buka Senin hingga Jumat.

Dari sisi jalan, Dinas Perhubungan Provinsi Papua Selatan juga mengecek marka, rambu, traffic light, paku jalan, mata kucing, dan lampu penerangan.

Kepala Dinas Perhubungan Papua Selatan, Michael R. Gomar, mengatakan survei dilakukan untuk menemukan fasilitas yang rusak dan menentukan kebutuhan penambahan.

Pada 2026, fasilitas keselamatan akan ditambah, termasuk lampu penerangan di Jembatan Tujuh Wali-Wali, Traffic Warning Light, papan penunjuk arah, dan rambu di titik rawan kecelakaan.

Fasilitas yang ada juga akan terus dipelihara.

Karena keselamatan di jalan membutuhkan fasilitas yang baik, kendaraan yang layak, dan kesadaran setiap penggunanya.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Merauke, Broto Harnoko ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)

Simulasi Keadaan Darurat

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, awak kapal harus berlatih menghadapi keadaan darurat sebelum benar-benar terjadi.

Bayangkan kapal sedang berlayar.

Tiba-tiba asap memenuhi salah satu bagian kapal.

Penumpang panik, awak kapal harus bergerak cepat.

Situasi inilah yang dilatih jajaran KSOP dan ASDP Merauke.

Senin, 7 September 2026, Koordinator Status Hukum dan Sertifikasi Kapal KSOP Merauke, Capt. Johanis, bersama ASDP menggelar simulasi kebakaran dan evakuasi dalam rangka kampanye keselamatan Harhubnas 2026 di atas KMP Bambit, yang bersandar di Pelabuhan Perikanan Kelapa Lima Merauke.

Api ditangani.

Penumpang diamankan.

Evakuasi dilakukan menggunakan peralatan keselamatan.

“Kita harus siap sebelum keadaan darurat terjadi,” tegas Capt. Johanis.

Simulasi melatih kru menangani kebakaran, mengevakuasi penumpang dengan sekoci, dan tetap tenang saat keadaan darurat.

ASDP Merauke mengoperasikan empat kapal, yakni KMP Muyu, KMP Bambit, KMP Binar, dan KMP Kokonau.

KMP Bambit berkapasitas 88 penumpang, dilengkapi life jacket lebih dari jumlah penumpang, 10 perahu karet, 2 sekoci, life buoy, dan gun flare.

“Seluruh anak buah kapal sudah terlatih dan profesional menghadapi keadaan darurat,” kata Dept Head Bisnis Operasional dan Teknik ASDP Cabang Merauke, Burhanudin.

Latihan bersama KSOP dilakukan sedikitnya sebulan sekali.

KSOP juga memeriksa mesin, alat navigasi, dan muatan untuk memastikan kapal laik berlayar.

Di atas kapal, keadaan darurat bisa datang kapan saja.

Kesiapan harus dilatih sebelum kepanikan terjadi.

Awak Kapal KMP Bambit ketika sedang melakukan simulasi evakuasi penumpang menggunakan perahu karet, dalam rangka kampanye keselamatan Harhubnas 2026. (Foto RRI)

Sebelum Pesawat Terbang

Di Bandara Mopah Merauke, keselamatan dimulai jauh sebelum pesawat mengudara.

Pelaksana Tugas Kepala UPBU Mopah Merauke, Ones Samperuru, mengatakan calon penumpang wajib mengikuti prosedur keselamatan dan datang dua jam sebelum keberangkatan.

Tiket dan identitas diperiksa.

Barang bawaan melewati X-ray, sementara penumpang menjalani pemeriksaan fisik oleh petugas Avsec.

Setelah check-in, pemeriksaan kembali dilakukan.

KTP dicocokkan dengan boarding pass, lalu barang bawaan dan fisik penumpang diperiksa kembali.

“Semua prosedur dilakukan untuk memastikan penerbangan aman.” Tegasnya.

Penumpang juga dilarang membawa barang berbahaya, termasuk bahan yang mudah terbakar.

Keselamatan diperkuat petugas yang telah memiliki sertifikat dan lisensi sesuai bidangnya.

Petugas Avsec memiliki lisensi Basic Avsec, Junior Avsec, hingga Senior Avsec.

Petugas Avsec, parkir pesawat, hingga menara juga mendapat pendidikan dan pelatihan sesuai standar keamanan dan keselamatan penerbangan.

Satu per satu penumpang diperiksa.

Satu per satu prosedur dijalankan.

Setelah semuanya dinyatakan aman, perjalanan pun dilanjutkan.

Plt Kepala UPBU Mopah Merauke, Ones Samperuru ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)

Satu Keselamatan

Darat, laut dan udara menjadi tiga jalur yang setiap hari menghubungkan masyarakat Merauke dengan berbagai tujuan.

Di darat, kendaraan roda empat dan bus DAMRI melintasi Jalan Trans Papua, termasuk menuju Boven Digoel.

Di laut, ASDP mengoperasikan KMP Bambit, KMP Muyu, KMP Binar dan KMP Kokonao.

Kapal perintis KM Sabuk Nusantara 53, 65, 47, 114 dan 66, serta kapal Pelni KM Tatamailau, KM Leuser dan KM Sirimau, menghubungkan Merauke dengan wilayah lain.

Dari Bandara Mopah, Garuda Indonesia, Lion Air, Trigana Air dan Susi Air membawa masyarakat menembus jarak melalui udara.

Tiga moda.

Tiga jalur perjalanan.

Harapannya tetap sama, tiba dengan selamat.

Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengatakan pemerintah daerah terus memperhatikan kebutuhan transportasi masyarakat.

“Transportasi sangat penting bagi aktiftas ekonomi warga, namun keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya saat dialog di RRI Merauke.

Menjelang Hari Perhubungan Nasional 17 September 2026, kemajuan transportasi harus berjalan bersama keselamatan.

Perjalanan jauh memiliki satu tujuan, pulang dengan selamat.

Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze ketika melaksanakan dialog luar studio di pro 1 RRI Merauke. (Foto RRI)

Semarak Menuju Harhubnas

Kampanye keselamatan terus digelorakan di Merauke, Papua Selatan, menjelang Hari Perhubungan Nasional 2026.

Pada 12 September, masyarakat diajak bergerak melalui OTban Run, fun walk dan senam sehat, sekaligus mengenal pentingnya keselamatan transportasi.

Pada 14 September, kegiatan berlanjut dengan donor darah dan kampanye keselamatan transportasi darat. Tertib di jalan berarti melindungi diri dan pengguna jalan lainnya.

Pada 15 September, insan perhubungan berbagi kasih melalui anjangsana ke pondok pesantren dan panti asuhan.

Pada 17 September 2026, rangkaian ditutup dengan upacara bendera Harhubnas 2026 dan resepsi Hari Perhubungan Nasional.

Beragam kegiatan itu menyatukan satu pesan, keselamatan transportasi membutuhkan kepedulian dan peran masyarakat.

Data rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Harhubnas 2026 di Kabupaten Merauke Provinsi Papua Selatan, (Gambar : Panitia Harhubnas 2026 Provinsi Papua Selatan)

Perjalanan Yang Berarti

Markus memilih laut.

Ananias menempuh jalan darat.

Rudi mengejar waktu melalui udara.

Jerry setiap hari bekerja di jalan.

Moda mereka berbeda.

Tujuannya pun berbeda.

Namun harapannya sama, tiba dengan selamat.

Bagi Markus, keselamatan membuat perjalanan panjang Asmat-Merauke lebih tenang.

Bagi Ananias, keselamatan menemani perjuangannya meraih pendidikan.

Bagi Rudi, prosedur keselamatan memberi rasa aman.

Bagi Jerry, kepatuhan pengguna jalan membuatnya lebih aman mencari nafkah.

Dampaknya sering tidak terdengar.

Tidak ada berita ketika seseorang tiba tanpa kecelakaan.

Tidak ada seremoni ketika keluarga kembali berkumpul.

Namun di situlah keselamatan bekerja.

Saat mahasiswa tiba di kampus.

Pekerja sampai di tempat kerja.

Penumpang tiba di tujuan.

Dan pengemudi pulang menemui keluarganya.

Lagu Dari Laut

Di tengah perjalanan laut, Markus menikmati waktu dengan bernyanyi sambil bermain gitar di atas KM Tatamailau.

Suara gitarnya mengalir bersama angin laut, menemani perjalanan panjang Asmat-Merauke.

Lagu yang dipilihnya, “Dari Sabang Sampai Merauke” karya R. Soerarjo, terasa begitu dekat dengan perjalanan mereka.

“Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.”

Di atas kapal, lagu itu seperti menggambarkan perjalanan panjang yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Nyanyian Markus membawa satu pesan sederhana, setiap perjalanan memiliki cerita, dan setiap cerita diharapkan berakhir dengan selamat.

Kembali Ke Rumah

Hari berganti.

Di jalan, roda kembali berputar.

Di laut, kapal membelah gelombang.

Di udara, pesawat membawa orang-orang menuju tujuan.

Namun di setiap perjalanan, ada seseorang yang menunggu.

Ibu. Anak. Suami atau istri.

Mereka tidak menunggu siapa yang paling cepat tiba.

Mereka menunggu kepulangan.

Karena itu, Hari Perhubungan Nasional 17 September 2026 menjadi pengingat untuk terus mengampanyekan keselamatan perhubungan.

Tertib di jalan.

Waspada di laut.

Patuh pada aturan di bandara.

Setiap kendaraan yang bergerak membawa harapan seseorang untuk kembali.

Dan perjalanan terbaik adalah ketika kita tiba dengan selamat.

Karena di rumah, selalu ada yang menunggu.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....