Roisyah Budiati, Sang Pejuang S3 LPDP Asal Kurik
- 29 Des 2025 10:54 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke: Banyak orang bermimpi dapat menempuh pendidikan hingga ke bangku Perguruan Tinggi. Tidak sedikit yang berjuang dengan beragam cara, mengerahkan seluruh energi dan sumber daya yang dimiliki.
Begitu pun bagi Roisyah Budiati, wanita kelahiran Kampung Harapan Makmur, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan 23 tahun silam. Saat ini ia tengah berjuang untuk memperoleh beasiswa studi lanjut S3/Doktoral dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kisah Roisyah, sapaan akrabnya, dalam meraih studi hingga saat ini bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Semua diperolehnya dengan ketekunan dan kerja keras belajar sejak di bangku SMA N 1 Kurik.
Lahir dari orang tua berlatar belakang guru membuatnya juga jatuh cinta pada profesi guru. Meskipun bersekolah di ujung timur tidak mengubur semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"saya sejak dulu memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dosen di Merauke dengan tujuan untuk mencetak generasi muda yang mampu bersaing dengan dunia luar. seperti yang kita ketahui bahwasannya di era modern saat ini Papua masih menempati posisi wilayah dengan angka putus sekolah tinggi dan minimnya pendidikan", ujarnya kepada rri.co.id (29/12/2025).
Saat Roisyah berada di bangku kelas 12 SMA N 1 Kurik, ia memberanikan diri untuk mendaftar ke Universitas Negeri Semarang (UNNES) Jurusan Pendidikan Geografi melalui jalur raport. Tak disangka dirinya lolos SNMPTN di kampus tersebut, yang mana pada saat itu hanya 2 orang siswa asal sekolahnya yang lolos.
Semenjak itu ia mampu menginspirasi adik-adik kelasnya agar berani mendaftar ke Universitas di luar Papua melalui jalur raport. Sebab dirinya yang lahir di Kurik sekalipun telah membuktikan kemampuannya berkuliah di Pulau Jawa.
Selama studi S1 Roisyah aktif mengikuti organisasi Pramuka di UNNES, aktif menjadi koordinator kelas dan memiliki IPK di atas 3.5. Oleh sebab itu dirinya direkomendasikan oleh Prof. Juhadi, salah satu Guru Besar Jurusan Pendidikan Geografi untuk melanjutkan studi S2 melalui jalur fast track
Pada jalur fast track inilah perjuangan Roisyah berlanjut. Dirinya ditargetkan mampu menyelesaikan studi S1 dan S2 dalam kurun waktu 5 tahun saja.
Ibarat pepatah "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui", begitulah kehidupan kampusnya. Meskipun disibukkan menyelesaikan tugas akhir S1, ia tak lupa untuk membagi waktu untuk menjalani perkuliahan S2 sekaligus.
Untuk penyusunan tugas akhir S2, Roisyah kembali berkontribusi untuk Merauke dengan menciptakan media mitigasi bencana untuk siswa di SMA N 1 Kurik. Saat itu sedang terjadi musibah banjir di Kampung Salor yang berdampak pada proses pembelajaran di SMA N 1 Kurik.
Penelitian berjudul “Enhancing High School Geography Learning through a TikTok-Based E-Module on Flood Disaster Mitigation” di Merauke lolos sinta 2 Universitas Negeri Lampung. Dirinya menghasilkan luaran berupa media tiktok @geo11smansaku untuk pembelajaran.
Melalui penelitian tersebut lah yang mengantarkannya lulus S2 dengan usia 22 tahun, dan menjadi lulusan termuda dengan predikat Cumlaude di Jurusan Pendidikan Geografi UNNES pada tahun 2024. Ia juga saat ini hendak melanjutkan studi S3 IPS di almamaternya itu.
Roisyah menuturkan, studi doktoral ini hendak mengangkat penelitian terkait kearifan lokal Suku Marind dan sekaligus mengenalkan kepada dunia, serta dapat dijadikan sebagai media untuk mengatasi permasalahan banjir di Merauke. Setelah menyelesaikan studi S3, ia berencana Kembali ke Merauke dan menjadi dosen di Merauke.