Dari Ujung Selatan, Wapres Titipkan Asa
- 02 Okt 2025 17:50 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Angin senja di Landasan Udara J.A. Dimara Merauke seolah ikut melambat, mendengarkan setiap kata yang diucapkan seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan tugasnya selama dua hari. Wajahnya mungkin lelah, tetapi matanya menyala dengan sebuah tekad. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak hanya membawa koper diplomatik, tetapi juga segunung cerita dari sekolah, puskesmas, dan pasar yang ia kunjungi. Sebelum langkahnya menaiki tangga pesawat, ia menitipkan sebuah pesan yang lebih berharga dari sekadar protokoler.
Dua hari bukanlah waktu yang lama, namun cukup untuk menyentuh denyut nadi kehidupan Papua Selatan. Ia telah berdialog dengan semangat anak-anak sekolah, merasakan napas kesehatan di puskesmas, dan menyerap energi di Pasar Wamanggu yang riuh. Dalam kesederhanaan pemberian alat sekolah untuk anak yatim piatu, terselip sebuah janji yang lebih besar. Bukan sekadar bantuan, melainkan pengakuan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada yang peduli dengan masa depan mereka di ujung timur Indonesia.
Kini, berhadapan dengan para pewarta, para penjaga cerita di bumi Cenderawasih, Wapres Gibran menyampaikan sebuah permohonan yang dalam. Bukan tentang dirinya, bukan tentang politik, melainkan tentang sebuah lanskap informasi yang sejuk dan membangun. Di tengah gemuruh berita yang kerap memecah, ia meminta para jurnalis untuk menjadi penenun narasi yang berbeda—narasi yang menyatukan, yang memotivasi, yang menyalakan lilin harapan di setiap headline.
Pesan itu kemudian mengalir lembut kepada para pemuda Papua Selatan, darah daging yang akan menentukan arah tanahnya sendiri. Wapres Gibran mengajak mereka untuk menjadi bagian dari sebuah mimpi besar, visi-misi Presiden Prabowo Subianto. Program-program seperti Cek Kesehatan Gratis dan MBG bukanlah sekadar proyek, melainkan sebuah undangan untuk berpartisipasi aktif. “Kita ingin Papua diprioritaskan,” katanya, sebuah penegasan bahwa pembangunan harus terasa hingga ke akar rumput.
Dan di antara semua pesan kebijakan, terselip sebuah janji personal yang terdengar begitu tulus. “Saya sudah janji ya, saya akan mampir lagi ke sini,” ucapnya, bagai seorang yang berjanji pada sahabat lama. Ia mengakui masih ada “PR-PR yang belum terselesaikan,” sebuah pengakuan jujur bahwa perjalanan masih panjang, tetapi komitmennya untuk kembali tak akan pernah pudar.
Kepada Komunitas Wartawan Daerah Papua Selatan, ia memberikan suntikan semangat. Ia melihat mereka bukan hanya sebagai pelapor berita, melainkan sebagai arsitek opini publik. Setiap kata yang mereka tulis, setiap gambar yang mereka abadikan, memiliki kekuatan untuk membangun atau merobohkan. Wapres mendorong mereka untuk memilih yang pertama—untuk menebarkan kebaikan, memajukan pembangunan, dan melukiskan wajah Papua Selatan yang penuh semangat dan optimisme.
Pesawat khusus itu akhirnya meninggalkan Merauke, membawa harapan dan janji yang baru saja ditabur. Namun, yang tertinggal bukanlah kesan kosong. Yang tertinggal adalah sebuah benih kepercayaan, sebuah keyakinan bahwa dari ujung selatan ini, sebuah cerita baru tentang Papua yang damai, maju, dan diprioritaskan, sedang mulai ditulis. Sebuah cerita yang menunggu untuk dikisahkan oleh setiap wartawan, setiap pemuda, dan setiap warga yang percaya pada hari esok yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....