Di Ufuk Timur, Tunas Bahasa Berkisah
- 01 Okt 2025 12:52 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Suara itu datang dari panggung kecil, mula-mula seperti desau angin yang menyelinap di sela-sela hutan belantara Merauke. Seorang gadis cilik berdiri tegak, matanya berbinar bagai bintang kejora di kegelapan. Dari bibir mungilnya, mengalir deras kata-kata yang bukan bahasa nasional, bukan bahasa pergaulan, melainkan bahasa leluhur—bahasa yang diwariskan dalam buaian dan lagu pengantar tidur. Setiap suku kata adalah jejak, setiap intonasi adalah ingatan.
Ini bukan sekadar festival. Di gedung Kanol Sai LPP RRI Merauke, pada hari yang disakralkan bagi Pancasila, denyut nadi kebinekaan justru ditemukan dalam kepolosan mereka, para tunas bangsa. Dua puluh satuan pendidikan—dari SD, SMP, hingga sanggar seni—menjadi benteng-benteng kecil yang menjaga nyala api yang hampir padam. Mereka bukan hanya peserta; mereka adalah penjaga memori, penerus obor yang nyalanya mulai tertiup angin zaman.
Di atas panggung, tubuh-tubuh mungil itu bergerak lincah dalam tarian, menceritakan kisah perburuan dan panen tanpa sepatah kata Indonesia. Lagu-lagu berbahasa daerah menggema, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai deklarasi: “Kami masih ada.” Dalam puisi dan storytelling, mereka membuka jendela ke dunia yang hampir terlupakan—dunia di mana sungai, buaya, dan burung cendrawasih bukan sekadar dongeng, melainkan saudara.
“Kegiatan ini merupakan upaya untuk terus melestarikan bahasa ibu sebagai warisan budaya,” ujar Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah. Namun, suara itu tenggelam dalam gemuruh makna yang terpancar dari setiap penampilan. Ini lebih dari sekadar upaya; ini adalah perlawanan yang lembut. Sebuah perlawanan dengan tarian, syair, dan senyuman. Di tengah gegap gempita modernitas yang kerap melupakan akar, mereka justru berbalik dan merengkuh erat kaki pohon silsilah mereka.
Pancasila yang sakti itu tidak hanya hidup dalam upacara dan pidato. Ia hidup, bernapas, dan menari dalam setiap helaan napas anak-anak yang dengan bangga berkata, “Inilah bahasa ibuku.” Di ujung timur Indonesia, di sebuah gedung yang mungkin biasa saja, semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak lagi menjadi konsep abstrak. Ia berwujud, bernyanyi, dan bersujud menghormati warisan yang hampir hilang.
Festival itu usai. Piala mungkin telah menemukan pemegangnya. Namun, kemenangan sejati terpateri dalam diam: dalam tekad yang terpancar dari mata seorang anak yang baru saja menyadari, bahwa bahasanya yang lama dan unik adalah harta karun yang tak ternilai. Sebuah warisan yang, selama masih ada yang bersedia melafalkannya, akan tetap abadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....