Dalam Duka, Kami Datang dengan Kasih
- 01 Okt 2025 12:49 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Perahu merapat di Pelabuhan Agats, membawa lebih dari sekadar seorang wakil gubernur. Ia membawa sejumput harapan ke jantung kepedihan yang mendalam. Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, melangkah di atas tanah yang masih menyimpan gema tembakan maut 27 September silam. Udara lembap Asmat hari itu terasa berat, bukan hanya oleh terik matahari, tetapi oleh beban duka yang menyelimuti keluarga-keluarga yang tercabik.
Dari pelabuhan, perjalanan pun berlanjut. Bukan menuju balai yang megah, tetapi menuju rumah-rumah sederhana di mana luka itu bersemayam. Di kediaman keluarga korban, kata-kata dirangkai dalam kesunyian yang berbicara lebih lantang dari pidato. "Kehadiran kami sebagai pemerintah adalah menjadi pelayan," ucap Paskalis, suaranya lirih namun menggetarkan jiwa. Sebuah pengakuan bahwa singgasana kekuasaan tertingginya adalah ketika ia mampu berlutut, mendengar, dan merasakan.
“Kami datang jangan hanya saat kamu susah, tetapi setiap saat kita harus bersama-sama.” Kalimat itu mengambang di ruang duka, bagai obat yang dioleskan perlahan pada luka yang masih perih. Ia bukan menjanjikan akhir dari segala nestapa, tetapi sebuah pengakuan: bahwa dalam suka dan duka, mereka tidak sendiri. Pemerintah hadir bukan sebagai menara gading, tetapi sebagai saudara yang turut menanggung beban.
“Kita harus mendengar suara rakyat, apa kata mereka karena mereka yang memiliki kedaulatan di negara ini. Tetapi jangan dikorbankan.” Ucapannya tegas, bagai tiang yang menopang langit yang hampir runtuh. Di sini, di tanah yang jauh dari pusat keramaian, kedaulatan rakyat diingatkan kembali. Bukan sebagai konsep di atas kertas, tetapi sebagai nyawa yang harus dijaga, yang tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan sejenak.
Kunjungan ini adalah sebuah janji yang diukir dalam kesabaran dan keheningan. Janji bahwa hukum tidak akan berjalan dalam kegelapan, tetapi akan ditegakkan secara terbuka. Agar luka ini tidak hanya menjadi statistik, tetapi menjadi pintu menuju keadilan yang sesungguhnya. Agar setiap keluarga yang ditinggalkan dapat merasakan, meski terlambat, bahwa nyawa saudara mereka berarti.
Ketika rombongan kembali ke perahu, mereka meninggalkan lebih dari sekadar kata-kata penghibur. Mereka meninggalkan sebuah keyakinan, bahwa di balik awan kelam yang menyelimuti Asmat, ada secercah cahaya yang lahir dari pelayanan yang tulus. Sebuah keyakinan bahwa pelayanan yang lahir dari kasih, pada akhirnya, akan lebih perkasah daripada kekerasan mana pun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....