Dalam Khidmat, Mereka Mengenang untuk Melangkah

  • 01 Okt 2025 12:48 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke  : Gelap menyelimuti Aula Utama pesantren, hanya diterangi oleh cahaya yang memantul dari layar dan sorot mata ratusan santri. Di wajah-wajah yang masih polos itu, bayang-bayang hitam putih sebuah film sejarah terpancar, membius mereka dalam kesunyian yang dalam. Tidak ada suara selain narasi yang mengisahkan sebuah bab kelam bangsa—Pengkhianatan G 30 S/PKI. Ini bukan sekadar tontonan; ini adalah perjalanan waktu.

Setiap adegan yang berdetak adalah cermin yang dihadapkan pada jiwa-jiwa muda itu. Sebuah pembelajaran yang bukan dari buku teks, tetapi dari getirnya sejarah yang direkam dalam seluloid. Abdul Kadir Arief, Sang Pengasuh, berdiri di tepi ruang, menyaksikan pelajaran paling kontekstual sedang berlangsung. Film ini, baginya, adalah penjaga gawang ideologi. Sebuah peringatan tentang betapa rapuhnya persatuan, dan betapa bahayanya racun paham yang hendak menggerogoti fondasi Pancasila.

“Santri sebagai generasi penerus harus memahami akar sejarah bangsanya,” ujarnya. Suaranya lirih, namun maknanya menggema di ruang yang hening. Pesannya jelas: bekal untuk masa depan tidak hanya ada dalam kitab kuning, tetapi juga dalam lembaran-lembaran sejarah bangsa. Sebuah tanggung jawab ganda: memahami akhirat dan membumikan nilai-nilai Pancasila di dunia yang fana.

Namun, pesantren ini tahu. Menonton saja tidak cukup. Gelapnya aula harus diterangi oleh pelita pemikiran. Maka, ketika lampu kembali menyala, tugas pun dimulai. Bukan soal hafalan, tetapi tentang refleksi. Pristia Wardanni, sang Guru Bahasa Indonesia, mempercayakan pena kepada para santri. “Jurnal literasi sejarah,” katanya, “adalah bentuk tindak lanjut kami.” Ini adalah jembatan antara mata yang melihat dan hati yang merenung.

Buku-buku jurnal itu akan menjadi saksi bisu. Di sanalah kesadaran itu dituangkan, bukan sebagai rangkuman, tetapi sebagai dialog dengan masa lalu. Ini adalah cara untuk mengasah daya kritis, memastikan bahwa yang tertanam bukanlah kebencian, tetapi kewaspadaan; bukan dendam, tetapi komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Malam itu, di Pondok Pesantren DDI Al-Munawwaroh, yang lahir bukan hanya kenangan akan sebuah film. Yang tumbuh adalah sebuah benih. Benih kesadaran bahwa nasionalisme dan religiusitas adalah dua sisi mata uang yang sama. Mereka sedang membentuk generasi santri yang tak hanya khusyuk menjalankan ibadah, tetapi juga memiliki mata yang tajam membaca bangsanya sendiri. Sebuah generasi yang, dengan bekal sejarah di genggaman dan iman di dada, siap melangkah ke masa depan tanpa melupakan jejak luka di belakang.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....