Jalan Raya Merauke, Luka yang Berulang
- 01 Okt 2025 12:46 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di atas jalan poros yang membentang dari Tanah Miring hingga Kurik, matahari terik menyinari jejak-jejak pilu. Aspal yang setiap hari dilintasi ribuan roda itu diam-diam menyimpan kisah getir. Hingga September 2025, ia telah menelan 29 nyawa. Bukan sekadar angka statistik, melainkan 29 dunia yang padam, 29 keluarga yang terduduk pilu. Sementara, 167 orang lainnya tergolek dengan luka berat, dan ratusan lagi menyimpan memori buruk tentang benturan dan rasa sakit.
Ipda Damianus E. Watora, suaranya berat menahan keprihatinan, memaparkan sebuah pola kesedihan yang berulang. Sebagian besar musibah ini bersumber dari sebuah kata yang tampak sepele: kelalaian. Di balik setir, kelopak mata yang berat akhirnya terpejam sesaat terlalu lama. Di tengah perjalanan, segelas alkohol menghapus kewaspadaan, mengubah kendaraan dari alat mobilitas menjadi peti besi berkecepatan tinggi. Di Trans Papua yang perkasa, tiga kasus kecelakaan tercatat; dua karena pengemudi bertarung dengan kantuk, dan satu karena mabuk merenggut nalarnya.
“Cukup menepi dan istirahat lima sampai sepuluh menit.” Imbauan itu terdengar sederhana, bagai sebuah nasihat biasa. Namun, di ujung timur Indonesia ini, ia bisa menjadi pembatas antara pulang dengan selamat dan sebuah berita duka yang menyergap keluarga. Lima menit mengalahkan kantuk bisa berarti menyelamatkan sisa hidup seseorang.
Namun, ada sebuah fakta yang lebih menyayat: kelompok usia di bawah 16 tahun mendominasi korban. Mereka, yang semestinya masih berseragam sekolah, justru menjadi pelaku dan korban di jalan raya. Banyak dari mereka tak tercatat oleh Jasa Raharja, bagai angka-angka sunyi yang hilang dalam belantara prosedur. Mereka adalah anak-anak yang terenggut masa depannya terlalu cepat, di usia di mana seharusnya mereka merencanakan mimpi, bukan mengakhiri perjalanan.
Jalan raya Merauke kini bagai sebuah ruang ujian kesadaran kolektif. Setiap deru mesin adalah pengingat, setiap tikungan adalah pertanyaan: apakah kita sudah cukup menghargai nyawa? Kepolisian telah menyampaikan imbauan, data telah dipaparkan, peringatan telah diteriakkan. Kini, jawabannya ada di tangan setiap orang yang memegang setir. Di atas jalan yang sama, di antara terik dan debu, setiap pengendara memegang kunci untuk menghentikan lingkaran duka ini. Untuk memastikan bahwa jalan raya menjadi penghubung kehidupan, bukan pemutus harapan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....