Menjaga Budaya Leluhur Lewat Lidah yang Bertutur

  • 01 Okt 2025 09:48 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke: Di sela riuh tepuk tangan penonton Festival Tunas Bahasa Ibu di Merauke, sekelompok anak kecil duduk rapi. Mereka berlatih melafalkan kata-kata dalam bahasa Malind dan bahasa Papua lainnya.

Sesekali mereka tertawa malu ketika lidah mereka salah mengucap, namun mata mereka berbinar: ada sesuatu yang hangat dan akrab dalam bunyi kata-kata itu—seperti suara dusun-dusun tua yang nyaris terlupakan. Festival ini, yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, menjadi ruang yang menghidupkan kembali bahasa ibu di tengah arus globalisasi yang kian menelan identitas budaya.

Rekianus Samkakai, salah satu orang tua peserta, berdiri di atas panggung dengan mata berkaca-kaca. Ia menuturkan kegelisahannya melihat anak-anak di pinggiran kota yang semakin jarang berbicara bahasa daerah.

“Sekarang, kalau kami menyapa dengan bahasa Malind, anak-anak sering membalas dengan bahasa Indonesia. Padahal, dulu kami belajar bahasa ibu sejak kecil. Ini perubahan yang kami lihat sendiri,” ucapnya sendu.

Baginya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi napas budaya dan jati diri. Ia khawatir, jika tidak segera dilestarikan, bahasa Malind dan bahasa-bahasa lain di Papua Selatan akan hilang dalam waktu dekat.

Kekhawatiran Rekianus beralasan. Di beberapa kampung di pesisir dan pinggiran kota Merauke, semakin sedikit anak yang fasih berbahasa ibu. Orang tua sibuk bekerja, sekolah-sekolah jarang mengajarkan bahasa daerah, sementara televisi dan gawai mendominasi kehidupan sehari-hari anak-anak dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing.

"Kami berharap pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten, memasukkan bahasa daerah ke muatan lokal sekolah. Anak-anak perlu tahu sopan santun dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam bahasa ibu mereka,” katanya.

Suasana festival hari itu menjadi pengingat tentang rapuhnya warisan budaya di era digitalisasi saat ini. Di antara para peserta yang mengenakan atribut adat, para orang tua tampak berbisik-bisik menceritakan kisah masa kecil mereka saat bahasa daerah masih menjadi bahasa sehari-hari.

Bagi mereka, festival ini bukan sekadar lomba. Ia adalah panggilan hati untuk menghidupkan kembali bahasa ibu yang nyaris tenggelam.

“Saya yakin Tuhan, leluhur, dan orang-orang asli Papua Selatan mendukung upaya ini. Bahasa adalah identitas kita. Kalau hilang, kita kehilangan arah,” kata Rekianus penuh keyakinan.

Di tengah perubahan zaman, festival ini menghadirkan harapan bahwa anak-anak Papua Selatan dapat tumbuh sebagai generasi yang tak hanya cakap berbahasa Indonesia dan Inggris, tetapi juga bangga menuturkan bahasa leluhur. Mereka tidak hanya belajar menghafal kata-kata, tetapi juga belajar mengenali diri, akar budaya, dan sopan santun yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Merauke hari itu, suara bahasa ibu kembali bergema, seolah menolak untuk dilupakan. Sebuah pengingat bahwa modernisasi tak seharusnya memutuskan lidah dan ingatan tentang rumah asal-usul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....