Darah di Fajar, Saksi Kesaktian Pancasila

  • 01 Okt 2025 07:58 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke  : Fajar pertama di bulan Oktober selalu membawa beban yang berbeda. Bukan hanya sekadar pergantian hari, melainkan sebuah kenangan yang terpatri dalam di sanubari bangsa. Sebuah kenangan tentang darah yang tumpah di kegelapan, tentang pengorbanan yang menjadi fondasi kokoh tegaknya Pancasila di tanah ini.

Setiap tanggal 1 Oktober, kita tak hanya melihat angka di kalender. Kita mendengar gema dari masa lalu—teriakan terakhir para jenderal, dentingan logam, dan kesunyian mencekam yang menyelimuti peristiwa Gerakan 30 September. Mereka, para pahlawan itu, gugur bukan hanya sebagai perwira militer, melainkan sebagai benteng terdepan yang menahan laju pemberontakan anti-Pancasila. Darah mereka menjadi tinta emas yang menuliskan kesaktian ideologi bangsa.

Layaknya sebuah naskah kuno, sejarah mencatat perjalanan panjang penetapan hari ini. Bermula dari keputusan TNI Angkatan Darat pada 1966, kemudian merambat menjadi getaran nasional. Sebuah surat dari Menteri Panglima Angkatan Kepolisian menjadi pemicu, diikuti oleh keputusan Jenderal Soeharto yang melebarkan sayap peringatan ini ke seluruh jajaran Angkatan Bersenjata. Dari sanalah, Hari Kesaktian Pancasila tak lagi menjadi milik seragam hijau semata, melainkan milik setiap rakyat Indonesia yang berdiri di bawah naungan sang Saka Merah Putih.

Namun, di balik semua regulasi dan surat keputusan itu, tersimpan sebuah makna yang jauh lebih dalam. Hari Kesaktian Pancasila adalah cermin untuk melihat betapa rapuhnya sebuah bangsa tanpa dasar negara yang kuat. Peristiwa G30S/PKI bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan ujian nyata bagi keberlangsungan negeri ini. Dan dari lorong gelap itulah, Pancasila muncul bagai pelita yang tak pernah padam, disirami oleh darah para syuhada.

Enam jenderal dan beberapa orang lainnya yang menjadi korban pembantaian itu mungkin telah tiada. Namun, jiwa mereka tetap hidup, menyatu dengan nafas Pancasila yang terus kita junjung tinggi. Mereka adalah pengingat abadi bahwa kemerdekaan dan persatuan harus terus diperjuangkan, bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.

Kini, ketika kita berdiri tegak di upacara peringatan, ingatlah bahwa kita tak hanya menghormati masa lalu. Kita sedang merawat api kesaktian Pancasila—api yang harus terus menyala, menerangi langkah bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Karena di balik kesaktian itu, tersimpan janji: bahwa persatuan Indonesia tak akan pernah lekang oleh zaman, selama kita tak melupakan sejarah yang membentuknya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....