Senja yang Berbagi Tawa di Kapsul Waktu

  • 01 Okt 2025 07:56 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke  : Matahari pagi itu masih malu-malu, menyapu pelataran Monumen Kapsul Waktu dengan cahaya keemasan. Namun, ada cahaya lain yang bersinar lebih terang—cahaya dari senyum puluhan lansia yang berkumpul, mengubah lapangan itu menjadi sebuah ruang hati yang luas. Mereka hadir bukan untuk sekadar menghirup udara pagi, melainkan untuk merajut kembali semangat yang kerap terkikis oleh waktu, dalam sebuah acara bertajuk “Piknik Bersama SALSA”.

“Senja Ceria, Hati Bahagia”—bukan sekadar tema, melainkan sebuah mantra yang diucapkan dengan lembut oleh angin pagi. Diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Salimah Kabupaten Merauke, acara ini adalah sebentuk pernyataan lembut bahwa masa senja tidak harus diisi dengan kesunyian. Ir. Harmini, M.Si., Pembina Salimah, dalam sambutannya yang hangat, bagai seorang ibu yang menyelimuti anak-anaknya, menyampaikan harapan yang mendalam: bahwa Sekolah Lansia Salimah (SALSA) harus terus hidup, menjadi pelita bagi mereka yang kerap merasa sepi di ujung usia. “Agar para lansia tidak merasa kesepian… dan tetap berguna,” katanya, sebuah doa yang diucapkan dengan keyakinan.

Dan kemudian, lapangan itu pun hidup. Tubuh-tubuh yang telah dirajut oleh waktu bergerak lincah dalam senam sehat, mengikuti irama dengan tawa yang mengembang. Dalam permainan yang melatih ingatan, ada konsentrasi di wajah-wajah mereka, seolah berkata, “Kenangan kami masih bisa diasah.” Bazar makanan ramai diserbu, bukan sekadar untuk memuaskan lidah, tetapi untuk merasakan kebersamaan yang hangat. Setiap tawa yang meledak, setiap tepuk tangan yang riuh, adalah melodi indah yang mengusir sepi.

Puncak dari pagi yang penuh berkah itu adalah kedatangan seorang sahabat bagi jiwa dan raga—dr. Uminah, Sp.Kj. Dengan lembut ia menerangkan tentang Alzheimer, sebuah bayangan yang sering menakutkan di usia senja. Namun, di bawah langit Merauke yang biru, penjelasannya menjadi penenang, sebuah pemahaman yang dibagikan dengan kasih. Layanan pemeriksaan kesehatan gratis—tes gula darah, kolesterol, asam urat—menjadi bukti nyata perhatian yang tulus. Jarum suntik bukan lagi sesuatu yang menakutkan, karena ia disusuli oleh senyum dan kepedulian.

Tujuh puluh pasang mata yang berbinar, tujuh puluh hati yang merasa diperhatikan, membuktikan bahwa wadah seperti SALSA bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan jiwa. Di tengah gemerlap dunia yang sering melupakan mereka yang telah berjasa, SALSA hadir bagai oasis di gurun, menyegarkan kembali semangat dan raga. Di Lapangan Kapsul Waktu, pada hari Minggu yang cerah itu, para lansia Merauke tidak hanya memeriksa kesehatan mereka; mereka sedang mengukir kenangan baru, membuktikan bahwa senja bisa sama cerianya dengan fajar, asalkan ada tangan-teman yang siap menopang, dan hati yang mau berbagi kebahagiaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....