Ketika Bahasa Ibu Berbisik diTelinga Masa Depan

  • 01 Okt 2025 07:54 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke  : Di sebuah sudut Papua, di mana sungai Mappi berkelok-kelok dan hutan Marind menyimpan ribuan cerita, ada sebuah kekayaan yang mulai rapuh terdengar. Bukan emas atau kayu berharga, melainkan kata-kata. Kata-kata yang dulu menjadi pengantar doa, lagu pengantar tidur, dan cerita-cerita heroik leluhur. Bahasa Ibu. Ia kini seperti nyala lilin yang diterpa angin besar modernitas, berkedip-kedip, hampir mati.

Namun, dari Gedung Pertemuan RRI Merauke, pada tanggal 1 Oktober 2025, akan lahir sebuah upaya untuk menyalakan kembali api itu. Pemerintah Kabupaten Merauke akan menggelar Festival Bahasa Ibu, sebuah panggung yang bukan sekadar untuk pentas, melainkan sebuah ruang pelestarian yang genting. Romanus Kande Kahol, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dengan suara yang penuh keyakinan, menyebut festival ini sebagai "ruang" bagi generasi muda. Sebuah ruang sakral di mana mereka tidak hanya diajak, tetapi didorong untuk unjuk bakat, dengan cara yang paling mendasar: bercerita.

Dan cerita yang akan mereka bawakan bukanlah dongeng biasa. Mereka akan menghidupkan kembali cerita rakyat, mengalunkannya dalam bahasa Mappi, Asmat, Marind, dan bahasa ibu lainnya. Setiap kata yang diucapkan adalah sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang bijak dengan masa depan yang penuh tanya. Di pundak anak-anak inilah beban dan kehormatan itu disandarkan. Mereka adalah pejuang baru, dengan mikrofon sebagai senjata, melawan lupa.

“Pelestarian bahasa ibu merupakan perwujudan dari pentingnya peran orangtua,” tegas Romanus. Seruan ini adalah sebuah pengingat yang menusuk. Di tengah gemuruh pembangunan dan sorot layar gadget, peran keluarga menjadi benteng terakhir. Orangtua diharapkan bukan hanya mendaftarkan anaknya, tetapi membangun kembali sebuah tradisi yang hampir punah: berdialog dengan bahasa ibu di rumah. Sebab, bahasa akan mati jika tidak dihidupi dalam keseharian, dalam bisikan kasih sayang dari ibu ke anak.

Menyadari ancaman kepunahan yang kian nyata, Bupati Merauke pun mengambil langkah tegas. Festival ini bukan lagi sekadar acara seremonial, melainkan sebuah agenda wajib tahunan. Sebuah komitmen politik yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata, sebuah pengakuan bahwa melestarikan bahasa sama pentingnya dengan membangun jalan atau jembatan.

Maka, panggung di RRI Merauke nanti akan menjadi lebih dari sekadar panggung. Ia akan menjadi sebuah ruang doa kolektif. Setiap cerita yang dibawakan oleh anak-anak itu adalah sebuah mantra penolak bala, sebuah upaya untuk menyelamatkan jiwa dari sebuah peradaban. Ketika seorang anak berdiri dan bercerita dalam bahasa Marind, pada saat itulah ia tidak hanya tampil; ia sedang menjahit kembali kain budaya yang mulai terurai, memastikan bahwa bisikan bahasa ibu takkan pernah sirna ditelan zaman.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....