Melestarikan Bisikan Leluhur di Tiap Kata

  • 30 Sep 2025 11:32 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Di sebuah studio RRI Merauke, suara Romanus Kande Kahol mengudara, bukan sekadar membacakan program, tetapi membawa sebuah kegelisahan yang dalam. Ia berbicara tentang bahasa ibu—kata-kata pertama yang pernah didengar seorang anak, lagu pengantar tidur yang dinyanyikan seorang ibu, cerita rakyat yang dibisikkan di malam hari. Itu adalah benang emas yang menghubungkan satu generasi ke generasi lain, yang kini mulai terurai dan nyaris putus.

“Banyak bahasa lokal di Papua terancam punah,” ujarnya. Kalimat itu menggambarkan sebuah darurat budaya. Perkembangan zaman, bukannya memperkaya, justru seperti air bah yang perlahan melunturkan warna-warni kearifan lokal. Bahasa-bahasa yang menyimpan cara pandang unik suatu suku, metafora alam, dan filosofi hidup, perlahan menjadi bisikan yang semakin lemah.

Namun, dari kekhawatiran itu, lahir sebuah tekad. Festival Bahasa Ibu adalah sebuah upaya heroik, sebuah upaya melawan lupa. Ia adalah ruang sakral di mana kata-kata tua dihidupkan kembali. Romanus, dengan penuh keyakinan, menetapkannya sebagai agenda tahunan. Sebuah komitmen bahwa warisan leluhur ini tidak boleh dibiarkan mati suri.

Dukungan pun datang. Penghargaan nasional untuk Bupati Merauke bukanlah sekadar piala, melainkan sebuah pengakuan bahwa di Merauke, ada jantung yang masih berdetak untuk melestarikan jati diri. Ia adalah suntikan semangat bahwa perjuangan mereka didengar hingga ke pusat.

Dan semangat itu pun menjalar. Lima belas satuan pendidikan dan sanggar telah mengangkat tangan, dengan sekitar lima puluh peserta yang siap menjadi penyambung lidah. Inilah yang paling mengharukan: seorang anak dari Suku Mappi akan berdiri dengan bangga, membawakan cerita rakyat bukan dalam bahasa nasional, tetapi dalam bahasa Mapinya sendiri. Setiap kata yang diucapkan adalah sebuah deklarasi: “Kami masih ada. Warisan kami masih hidup.”

Pada Rabu, 1 Oktober 2025, di LPP RRI Merauke, panggung akan disiapkan. Di sana, bukan sekadar pertunjukan yang dinilai, melainkan sebuah upacara penyerahan tongkat estafet. Para pemenang terbaik tidak hanya membawa pulang piala; mereka akan membawa amanah suci untuk membawa bisikan leluhur mereka ke kancah nasional.

Ini lebih dari sebuah festival. Ini adalah napas terakhir yang dihembuskan ke bara budaya yang hampir padam, berharap ia kembali membara, menerangi identitas anak cucu di tanah Papua di masa yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....