Senja yang Masih Bersemayam di Riang Tawa
- 30 Sep 2025 11:30 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Minggu pagi di Lapangan Monumen Kapsul Waktu Merauke tak hanya diisi oleh bisikan angin. Di sana, tersimpan sebuah mozaik kebahagiaan yang paling jujur. Para lansia, dengan rambut yang telah dipatri warna perak dan wajah yang diukir oleh waktu, justru menjadi sumber tawa yang paling cerah. Mereka adalah murid-murid dari Sekolah Lansia Salimah (SALSA), yang hari itu memilih untuk 'piknik'—sebuah kata sederhana yang menjadi bukti bahwa jiwa yang muda tak pernah lekang oleh usia.
Dengan semangat yang tak kalah dari anak muda, tubuh-tubuh itu bergerak lincah mengikuti irama senam. Setiap gerakan adalah sebuah syair tentang semangat yang tak mau padam. Lalu, ada permainan yang melatih daya ingat. Di sini, ingatan mungkin tak lagi secepat dulu, tetapi di antara gelak tawa saat mereka sedikit 'lupa', terselip sebuah pelajaran berharga: bahwa yang terpenting bukanlah mengingat segalanya, tetapi merasakan kebahagiaan di momen ini, saat ini.
Di tengah riuh rendah bazar kuliner, ada sebuah ruang hening saat dr. Uminah, Sp.KJ, berbicara tentang Alzheimer. Materi itu disampaikan bukan untuk menakuti, melainkan sebagai sebuah pelita—sebuah upaya untuk memahami 'lupa' bukan sebagai aib, tetapi sebagai bagian dari hidup yang harus dihadapi dengan ilmu dan kesiapan hati.
Ir. Harmini, M.Si., sang pemimpin, membuka acara dengan harapan yang terdengar seperti sebuah doa. "Dihari tuanya para lansia tetap terus berguna, bermanfaat..." Katanya mengalir lembut. Itu adalah sebuah penegasan: masa senja bukanlah masa tunggu. Ia adalah fase di mana seseorang bisa tetap menjadi cahaya, bagi dirinya sendiri dan bagi keluarga di sekelilingnya. Sekolah ini hadir untuk mengusir kesepian, untuk mengingatkan bahwa mereka masih memiliki tempat bernaung, sebuah komunitas yang menyambut dengan hangat.
Puluhan pengunjung yang hadir pun larut dalam kebahagiaan ini. Mereka menyaksikan bahwa kebahagiaan itu tidak rumit. Ia bisa hadir dari sebuah senam sederhana, sebuah permainan receh, dan secangkir teh hangat di antara sahabat.
Pada hari itu, di bawah cakrawala Merauke yang luas, mereka tidak hanya sekadar piknik. Mereka sedang menanamkan sebuah pelajaran abadi: bahwa hidup adalah tentang terus belajar, tertawa, dan berkarya, sampai nafas yang terakhir. Dan senja pun bersemayam dengan indah, di sela-sela riang tawa mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....