Lumbung Pangan Menyemai di Ufuk Timur

  • 30 Sep 2025 10:23 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Di ujung timur Indonesia, di mana matahari memilih untuk pertama kalinya menyapa negeri ini, sebuah lukisan harapan sedang diguratkan dengan sabar. Di Kampung Marga Mulya, Kabupaten Merauke, tanah tidak lagi sekadar diam. Ia berdenyung. Denyutnya adalah langkah mantap lebih dari 150 petani, menyingsingkan lengan, menancapkan tekad mereka ke dalam lumpur yang masih basah oleh embun pagi.

Ini adalah Musim Tanam III yang akan segera ditutup, sebuah babak akhir dalam buku kerja setahun. Namun, di akhir ini, justru terdapat sebuah awal yang khidmat. Seperti ritual penyambutan, lagu Indonesia Raya berkumandang, menggetarkan udara lembab yang membawa aroma tanah dan pupuk. Sebelum tangan-tangan itu menyentuh bibit, hati mereka terlebih dahulu disatukan oleh benang merah nasionalisme, di sebuah sawah yang menjadi panggung bagi sebuah cita-cita besar: memastikan perut negeri ini tak lagi keroncong.

Dalam video conference yang menyambungkan mereka dengan pusat, terpancar wajah-wajah yang tak asing dengan terik dan hujan. Wajah-wajah yang menjadi tumpuan. “Brigade Pangan menjadi energi baru bagi petani di wilayah,” begitu sabda penyemangat dari pusat. Kata-kata itu bukanlah sekadar gelombang suara di udara. Ia menjelma menjadi pendampingan yang nyata, dari teknologi yang meringankan tenaga, permodalan yang menguatkan urat nadi ekonomi, hingga janji pemasaran yang mengusir bayang-bayang ketakutan. Mereka merasa diperhatikan. Dan di tanah yang subur ini, perhatian adalah pupuk yang paling mujarab.

Yosefa Loise Rumaseuw, sang Kepala Dinas, dengan penuh semangat memimpin gerakan serentak ini. Di sampingnya, perwakilan TNI dan berbagai instansi berdiri tegak. Mereka bukan hanya hadir sebagai nama dalam daftar undangan, tetapi sebagai penyangga, sebagai penjaga gawang impian kolektif ini. Kehadiran mereka adalah sebuah pesan: perjuangan di lahan ini adalah perjuangan kita semua.

Seorang petani, Bapak Surani, Ketua Gapoktan Marga Mulya, mungkin tak fasih merangkai kata-kata puitis tentang kedaulatan pangan. Tetapi, tatapannya yang tajam mengamati setiap bibit padi yang ditanam, adalah sebuah syair tentang kepemilikan. Setiap lekuk tanah yang ia ratakan, adalah sebuah paragraf dalam buku harian pengabdian. Baginya, sawah ini bukan sekadar hamparan, ia adalah anakannya yang harus diberi makan, dirawat, dan kelak diharapkan menghidupi kembali jutaan orang.

Mereka menanam. Bukan hanya benih padi varietas unggul, tetapi juga benih keyakinan. Keyakinan bahwa dari ufuk timur ini, dari tanah yang pernah dianggap sebagai ‘akhir’ dari peta, justru akan lahir sebuah awal yang gemilang. Sebuah lumbung pangan yang tak hanya membuat Indonesia berdiri tegak mencukupi diri sendiri, tetapi juga suatu saat akan mampu menopang ketahanan pangan dunia.

Ketika hari itu nanti tiba, dan nasi harum membumbung dari setiap dapur di Nusantara, ingatlah pada sebuah pagi di Merauke. Ingatlah pada para petani yang dengan kaki terbenam dalam lumpur, dan kepala penuh dengan bintang-bintang. Mereka adalah para pekabar fajar, yang dengan sabar menyemai matahari di setiap helai daun padi, untuk kemerdekaan yang paling hakiki: kemerdekaan atas piring kita sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....