Beras dan Harapan di Pelabuhan Asmat
- 29 Sep 2025 18:05 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Matahari pagi di Pelabuhan Agats masih malu-malu, menyinari debu kapal yang beterbangan dan riuh rendah kehidupan. Jumat itu, di tepi jalan masuk pelabuhan, sebuah pemandangan lain menyita perhatian. Bukan deretan truk atau pedagang asongan, melainkan tumpukan karung beras yang disusun rapi, bagai benteng kecil yang menahan laju duka. Inilah Gerakan Pangan Murah, sebuah puisi sederhana yang ditulis dengan tinta kepedulian oleh Polres Asmat.
Tiga puluh karung beras, 150 kilogram harapan. Butir-butir putih itu tak lagi diam. Mereka adalah janji yang dibungkus anyaman plastik, berbisik tentang perut yang tak lagi keroncongan, tentang senyum anak-anak yang bisa mengembang karena nasi yang hangat. Dengan harga Rp67.500 per karung, angka yang jauh lebih ramah daripada gema harga di pasar, beras itu bukan lagi sekadar komoditas. Ia menjadi jembatan.
Antusiasme warga pun meletup, hangatnya melebihi sinar mentari pagi. Dalam waktu singkat, seluruh beras ludes diserbu. Setiap karung yang berpindah tangan adalah sebuah cerita pendek tentang kelegaan. Bukan hanya tentang transaksi ekonomi, tetapi tentang pengakuan bahwa hidup mereka, sesulit apapun, diperhatikan.
Suara Kasat Binmas, AKP Muhammad Ja'far, menguatkan janji itu. Program ini akan berlanjut hingga Desember 2025, sebuah melodi yang terus diputar untuk mengiringi langkah warga Agats menembus kesulitan. "Sehingga kegiatan tersebut dapat memberikan dampak dan manfaat," ujarnya. Kata-katanya sederhana, namun maknanya dalam, menyelam ke dasar lautan kebutuhan warga Asmat.
Di pelabuhan tempat segala sesuatu datang dan pergi, Polres Asmat memastikan bahwa sesuatu yang penting—yaitu harapan—tidak akan pergi begitu saja. Ia akan tetap berlabuh, diwujudkan dalam setiap karung beras murah yang hadir mengisi piring-piring yang menunggu, mengisi hari-hari yang rindu pada kepastian. Butir demi butir, mereka bukan hanya mengisi lumbung, tetapi juga menyulam kembali keyakinan bahwa di tengah arus zaman yang keras, masih ada tangan-tangan yang rela terulur, membawa beras dan secercah cahaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....