Darah yang Terbuang, Nyawa yang Tertunda
- 29 Sep 2025 18:02 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di ruang penyimpanan PMI Merauke, kulkas-kulkas tua berdengung dengan setia, menjaga nyawa dalam bentuknya yang paling cair. Tapi di balik pintu kacanya, seringkali tersimpan sebuah paradoks yang memilukan. Demonikus Ulukyanan, Ketua PMI Kabupaten Merauke, menyaksikannya dengan hati yang berat. “Kadang kita dapat sumbangan darah itu sampai ratusan,” katanya dalam sebuah dialog, suaranya lirih bagai bisikan yang tertelan kesedihan. “Tapi kalau tidak dipakai, harus dimusnahkan.”
Setiap kantong darah yang terpaksa dimusnahkan itu adalah sebuah epik yang terputus. Ia adalah cerita tentang seorang pemuda yang dengan berani menelanjangi lengannya, tentang jarum yang menyelinap dengan sigap, dan tentang tetes merah kental yang mengalir penuh harapan. Perjalanan heroik itu berakhir tragis di tempat pembuangan, bukan karena darahnya tak bermutu, melainkan karena ruang penyimpanan yang tak lagi mampu menampungnya. Peningkatan permintaan darah di Papua Selatan adalah sebuah kabar gembira yang pahit—semakin banyak yang tertolong, justru semakin banyak pula yang terbuang percuma.
Lalu ada lagi cerita tentang sang langka: darah golongan B. Ia bagai hantu yang selalu dicari, namanya terukir dalam daftar tunggu yang panjang, namun sosoknya sulit ditemui. “Darah B susah kita dapat,” ucap Demonikus, sebuah pengakuan yang menggambarkan betapa rumitnya teka-teki kemanusiaan ini. Di tengah keterbatasan itu, PMI Merauke tak berpangku tangan. Tangan-tangan mereka terbuka, menjalin kerja sama dengan TNI, Polri, dan Universitas Musamus, merajut anyaman bantuan sekuat tenaga.
Dan di usia ke-80 PMI, Demonikus menegaskan kembali sebuah prinsip yang lebih dalam dari sekadar urusan golongan darah: kemanusiaan yang tak memandang batas. “Dari PMI hadir itu bukan hanya untuk orang Indonesia saja,” tegasnya. “Tapi pihak musuh juga, kalau sampai perlu darah, ya kita bantu.” Dalam kalimat itu, ia mengajarkan bahwa darah yang mengalir di pembuluh siapapun—teman atau lawan—adalah merah yang sama. Ia adalah sungai kehidupan yang menolak dikotak-kotakkan oleh perang atau permusuhan.
Sementara itu, di lapangan, dr. Siti dari UDD PMI dengan sabar membawa obor pencerahan. Ia dan timnya menyusuri sekolah-sekolah, membujuk hati para calon pendonor pemula. “Donor darah ini bukan hanya memberikan manfaat untuk orang yang membutuhkan, tetapi juga bagi si pendonor sendiri,” ajaknya. Setiap sosialisasi adalah sebuah puisi persuasif, mengajak semua orang untuk melihat bahwa dalam setiap tetes yang mereka berikan, tersembunyi keajaiban ganda: menyembuhkan orang lain sekaligus menyucikan diri sendiri.
Maka, di ujung Papua, di tanah Merauke yang keras, sebuah perjuangan lain terus berlangsung. Bukan dengan senjata, melainkan dengan kantong-kantong plastik berisi kehidupan. Perjuangan melawan waktu, melawan ruang yang terbatas, dan melawan ketakutan akan jarum. Di sana, para pejuang kemanusiaan itu tak henti-hentinya mengetuk pintu hati, mengajak setiap insan untuk ikut menuliskan satu baris kalimat dalam puisi panjang tentang harapan—dengan satu tusukan kecil, dan satu kantong darah yang bisa berarti sebuah senyuman yang kembali merekah, atau sebuah nafas yang berhasil diperpanjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....