Dari Reruntuhan, Mereka Menabur Damai
- 29 Sep 2025 15:07 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Kabut masih enggan meninggalkan puncak pegunungan Yalimo pagi itu, menyelimuti luka-luka yang masih perih. Di Distrik Elelim, senyap yang menyisakan duka bersua dengan langkah tegas para pemimpin. Mayjen TNI Amrin Ibrahim dan Irjen Pol Petrus Patrige Rudolf Renwarin hadir bukan sebagai tamu agung, melainkan sebagai sahabat yang turun menyentuh bumi yang berduka.
Mereka berjalan pelan, menyusuri setiap jengkal tanah yang masih menyimpan kenangan kelam 16 September. Di sana, di mana Asrama Polres Yalimo pernah berdiri, kini hanya tersisa jejak-jejak hitam dan puing yang bisu. Setiap batu yang hangus, setiap serpihan atap yang melengkung, adalah cerita tentang hari di mana amarah mengalahkan nalar, dan api melahap kedamaian.
Di balik kabut, tatapan para pemimpin itu menangkap lebih dari sekadar kerusakan. Mereka melihat bayangan rumah warga yang hangus, pasar yang senyap, dan hati masyarakat yang tercabik. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan kerja; ia adalah sebuah isyarat bahwa di tengoah keterpencilan pegunungan Papua, tidak ada seorang pun yang terlupakan.
Bantuan yang disampaikan, lebih dari sekadar materi. Ia adalah sebuah pelukan, sebuah pengakuan bahwa rasa sakit mereka didengar, bahwa penderitaan mereka adalah luka bersama. Dr. Nahor Nekwek, Bupati Yalimo, menerimanya dengan mata yang berkaca-kaca. Sebuah ucapan terima kasih yang terangkai sederhana, namun penuh dengan beban harapan dari sebuah negeri yang rindu akan keteduhan.
"Kami Forkompinda Kabupaten Yalimo sudah mengambil langkah..." ujar Bupati. Kalimat itu adalah sebuah janji, sebuah tekad untuk membangun kembali bukan hanya tembok dan atap, tetapi juga kepercayaan yang retak.
Pangdam, dengan suara yang tenang namun berwibawa, melanjutkan benang harapan itu. Ajakannya untuk bersama-sama menjaga Yalimo adalah sebuah seruan untuk mengubur permusuhan. "Koordinasi harus terus dilakukan..." pesannya, menekankan bahwa senjata paling ampuh di medan ini bukanlah peluru, melainkan dialog dan pendekatan yang tak kenal lelah.
Lalu, di antara pesan-pesan tentang keamanan dan pembangunan, terdengar sebuah kalimat yang paling menyentuh relung hati. "Kami turut berduka cita..." ucap Mayjen TNI Amrin. Sebuah pengakuan yang jujur atas nyawa yang melayang. Ia adalah pengakuan bahwa di balik seragam dan pangkat, ada hati yang turut remuk oleh kepergian anak-anak negeri.
Kini, para pemimpin itu telah pergi, meninggalkan Elelim yang masih berduka. Namun, jejak mereka tidak hanya tertinggal di tanah beku. Mereka meninggalkan benih-benih percakapan, jaminan bantuan, dan yang terpenting, sebuah keyakinan bahwa dari antara reruntuhan ini, damai harus kembali bersemi. Perjalanan masih panjang, tetapi di tengah segalanya yang telah hangus, asa mulai tumbuh kembali—pelan, namun penuh keyakinan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....