Tebu, Triliunan, dan Sepotong Janji di Bumi Animha
- 29 Sep 2025 15:04 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Angin yang berhembus di kawasan transmigrasi Salor siang itu membawa harapan baru, sekaligus pertanyaan lama. Di hadapan para transmigran, Menteri Iftitah Sulaiman Suryanagara berdiri, bagai seorang nahkoda yang menggariskan peta perjalanan panjang menuju kemakmuran. Nilainya fantastis: seratus lima puluh triliun rupiah. Sebuah angka yang bisa mengubah wajah sebuah daerah, atau justru menggoreskan luka yang dalam.
Namun, di tengah gemuruh rencana investasi yang sebesar itu, sang Menteri justru menyisipkan sebuah mantra penenang. "Tidak akan merusak lingkungan," ujarnya. Empat titik yang wajib dilindungi—spot-spot yang tak boleh dirusak. Janji itu adalah pagar imajiner yang mengitari hati bumi Merauke, sebuah ikrar bahwa kemajuan tak boleh buta, bahwa akar pohon rindang dan aliran air jernih harus tetap memiliki takhtanya.
Rencana ini bukanlah perihal membabat, melainkan membangun. Universitas Musamus hadir bukan sebagai menara gading, tetapi sebagai jembatan. Tiga puluh empat sarjana—yang mungkin adalah anak-anak dari tanah ini sendiri—akan menjadi ujung tombak, mengalirkan ilmu ke dalam urat nadi proyek raksasa ini. Mereka adalah bukti bahwa investasi terbesar bukanlah pada tebu, melainkan pada manusia. Sebuah pintu dibuka lebar bagi anak-anak transmigran lulusan S1; mimpi mereka tak lagi melayang di awang-awang, tetapi berakar di kebun tebu di depan mata.
Di Desa Salor, sebuah lembaga ekonomi akan tumbuh. Lahan-lahan kecil para transmigran, bagai sungai-sungai yang bersatu, akan menyatu di bawah payung Koperasi Merah Putih. Mereka bukan lagi petani yang berjuang sendiri, melainkan mitra sejajar yang siap berjabat tangan dengan investor. Sistem bagi hasil selama tiga puluh tahun adalah sebuah ikatan suci, sebuah pernikahan antara modal dan keringat, antara triliunan rupiah dan harapan ratusan keluarga.
Pemilihan lokasi di Doma Ande bukanlah keputusan instan. Ia adalah kesimpulan dari sebuah percakapan panjang selama hampir sepuluh tahun antara para peneliti dan tanah Merauke. Riset yang sabar memastikan bahwa setiap biji tebu yang nanti ditanam, tidak mengorbankan sebutir pun padi yang telah menjadi nadi kehidupan.
Inilah wajah kolaborasi yang diimpikan: di mana investor, transmigran, dan masyarakat lokal duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Nilai Rp150 triliun itu hanyalah angka. Jiwa dari proyek ini adalah kesetaraan. Ia adalah tentang memastikan bahwa kemakmuran yang dijanjikan oleh batang-batang tebu itu, bukan hanya untuk segelintir orang, tetapi untuk semua yang telah mempercayakan nasibnya pada sepetak tanah di ujung Papua ini. Sebuah janji, bahwa di Bumi Maro, tebu akan tumbuh sebagai simbol persahabatan, bukan penjajahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....