Dari Sungai, Kita Merajut Kembali Kehidupan
- 29 Sep 2025 08:43 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Alirannya mungkin tenang, atau mungkin deras, membawa serta cerita-cerita sebuah peradaban. Tukad Badung, di Bali, bukan sekadar aliran air. Ia adalah nadi yang menghidupi, cermin yang memantulkan wajah kita sebagai masyarakat. Dan pada suatu hari, di tepiannya, sekelompok anak muda berdiri. Mereka tidak hanya datang untuk membersihkan, tetapi untuk mendengarkan. Mendengarkan bisik sedih sungai yang tercekik sampah.
“Menjaga sungai berarti menjaga masa depan.” Kalimat itu bukan lagi slogan, melainkan sebuah mantra yang dihidupkan dalam setiap gerak. Gerak tangan yang mengais plastik, menyingkirkan dedaunan yang bercampur styrofoam, dan memasang penghalang sampah—sebuah benteng sederhana untuk menghentikan laju kehancuran. Ini adalah aksi kecil yang berbicara lantang: bahwa kita masih peduli.
Dhanny dari BRI menyebutnya sebagai ‘titik balik’. Bukan sekadar seremonial, tetapi sebuah upaya membangun kesadaran kolektif dari dasar hati. Program “Jaga Sungai, Jaga Kehidupan” yang telah berjalan sejak 2020 adalah lebih dari sekadar angka: lebih dari 100 sungai yang disentuh, 18 trash barrier di Tukad Badung, 64.480 kg sampah anorganik yang diselamatkan dari kelamnya laut. Di balik angka-angka itu, ada napas baru yang dihembuskan ke dalam sungai-sungai yang hampir mati.
Namun, pembersihan saja tidak cukup. Perlu ada perubahan pola pikir. Edukasi memilah sampah menjadi ritual baru. Sampah organik yang terpilah bukan lagi sampah, ia adalah kehidupan baru: menjadi pupuk yang menyuburkan, pakan yang menghidupi, energi yang menerangi. Sampah anorganik yang dicacah dan dijual adalah pengakuan bahwa yang kita buang masih memiliki nilai, masih bisa bertutur tentang masa depan.
Kolaborasi dengan Sungai Watch Indonesia adalah pertemuan dua hati. Sebuah yayasan nirlaba dan sebuah institusi keuangan, bersimpuh di tepi sungai yang sama, dengan keyakinan yang sama: bahwa sungai adalah ibu yang harus dilindungi. Pendekatan berbasis komunitas dan padat karya mengubah pembersihan dari proyek menjadi gerakan, dari tugas menjadi panggilan.
Di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, di mana akar-akar mangrove mencengkeram erat tanah untuk mencegah abrasi, manusia pun belajar. Belajar untuk mencengkeram erat tanggung jawab mereka. Setiap trash barrier yang terpasang, setiap karung sampah yang diangkut, adalah janji. Janji bahwa warisan yang kita tinggalkan untuk anak cucu bukanlah tumpukan sampah, tetapi aliran air jernih yang terus mengalirkan kehidupan.
Sungai telah memberi kita banyak hal. Kini, di Hari Sungai Sedunia, dan di setiap hari setelahnya, ia hanya meminta satu hal: untuk dirawat. Seperti seorang ibu yang tak pernah berhenti memberi, ia hanya ingin anak-anaknya ingat untuk tidak membuang sampah di pangkuannya. Di Denpasar, hari itu, janji itu diucapkan kembali. Dengan peluh, dengan aksi, dan dengan hati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....