Tumbuh di Ufuk Timur, Mengukir Swasembada

  • 28 Sep 2025 14:44 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Matahari di Distrik Jagebob, Merauke, siang itu, bukan sekadar benda langit. Ia adalah seorang penyepuh yang sabar, mematrikan cahaya keemasan pada setiap jengkal tanah, pada setiap helai rambut jagung yang berdiri tegak, bagai prajurit yang telah menuntaskan tugasnya. Angin yang berhembus pelan membawa bisikan kemenangan, gemerisik daun-daun kering yang berdesir riang, seolah ikut merayakan sebuah pencapaian yang jauh lebih dalam dari sekadar tuaian.

Di tengah hamparan emas itu, berdiri AKBP Leonardo Yoga. Seragamnya yang khaki menyatu dengan palet bumi, sebuah penggambaran yang sempurna tentang bagaimana institusinya tak lagi sekadar penjaga kamtibmas, tetapi telah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan warga. Tangannya yang biasa memegang senjata, hari ini dengan cekatan memegang tongkol jagung yang berisi, simbol dari sebuah pertempuran baru: perang melawan ketergantungan pangan.

“Kegiatan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal III ini merupakan salah satu upaya mendukung ketahanan pangan sesuai dengan Asta Cita Presiden RI,” ujarnya, suaranya lantang menembus lapang, namun terdengar syahdu di antara deru harapan. Kalimat itu bukan lagi sekadar pernyataan resmi, melainkan sebuah ikrar yang terpatri di bumi Papua. "Kami mendukung penuh program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, terutama di Kabupaten Merauke."

Dia tidak sendirian. Di sekelilingnya, terukir sebuah mozaik kebersamaan. Ada Dr. Oing Amiruddin, sang penjaga gawang swasembada Papua Selatan, matanya menerawang penuh perhitungan. Ada Ibu Josefina dari Dinas Pertanian, dengan senyum kepuasan seorang ibu yang melihat anak-anaknya tumbuh subur. Ada Bapak Iswahyudi, Sang Kepala Kampung, yang raut mukanya adalah cerita panjang tentang jerih payah, peluh, dan akhirnya, kebanggaan yang tak terucapkan. Setiap tamu undangan yang hadir adalah benang-benang yang ditenun menjadi sebuah kain kebangsaan yang kokoh, dimulai dari sepetak lahan seluas satu hektar di Gurinda Jaya ini.

Lahan seluas 4,5 hektar yang tersebar di wilayah Polres Merauke mungkin hanya setitik kecil di peta Nusantara. Namun, dari titik kecil inilah sebuah gelombang besar dimulai. Setiap tongkol jagung yang dipetik bukan sekadar komoditas, melainkan sebuah sajak tentang kemandirian. Setiap biji yang kuning adalah mutiara yang lahir dari kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa Indonesia Timur bisa menjadi lumbung bagi bangsanya sendiri.

Ketukan sanksi memotong jagung pun bergema, bagai irama musik pengiring bagi sebuah upacara yang sakral. Ini adalah nyanyian kemenangan atas keraguan, atas tanah yang dianggap keras, atas jarak yang sering kali menjadi alasan. Di ufuk timur Indonesia, di bawah langit Merauke yang membentang luas, jagung-jagung itu telah tumbuh menjadi lebih dari sekadar tanaman. Mereka adalah pilar-pilar penopang mimpi besar tahun 2025, sebuah monumen hidup yang membisikkan pada kita semua: swasembada bukanlah impian, melainkan sebuah kepastian yang sedang kita tulis, seikat demi seikat, di ladang-ladang penuh arti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....