Jeritan Tanah Leluhur di Kampung Domande

  • 27 Sep 2025 11:33 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Di Kampung Domande, Distrik Malind, sunyi pagi tak lagi diisi hanya oleh kicau burung dan desau angin di antara pepohonan. Kini, ada gemerisik kekhawatiran yang bergema dari hati puluhan masyarakat adat. Sebuah kabar telah datang, bagai awan gelap yang mengancam akan mengubah wajah tanah leluhur mereka. Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa perkebunan tebu berencana menjejakkan kakinya di hamparan hutan yang selama ini menjadi ibu yang memberikan kehidupan.

“Kami mendengar informasi bahwa akan ada perusahaan PT Borneo Citra Persada akan beroperasi di kampung Domande dengan mengalihfungsikan hutan menjadi perkebunan tebu,” ujar Hubertus Kaize, seorang tokoh pemuda, pada sebuah Selasa yang kelam. Setiap katanya bukan sekadar informasi, melainkan sebuah getar penolakan. Bagi mereka, hutan bukanlah sekadar kumpulan pohon dan satwa. Ia adalah pasar tempat mereka mencari makan, apotek yang menyediakan obat, dan gereja tempat mereka bersujud pada sang pencipta. Mengalihfungsikannya sama dengan mencabut akar sejarah dan napas kehidupan turun-temurun.

Penolakan itu tak hanya bergema dalam keluh kesah. Sebuah tindakan nyata ditancapkan kokoh di atas tanah sengketa. Papan penolakan didirikan, bagai benteng terakhir dari sebuah peradaban yang ingin bertahan. Papan itu bukanlah kayu biasa, melainkan suara kolektif yang dibalut keputusasaan, sebuah pernyataan tegas bahwa mereka masih ada dan berhak atas tanah warisan nenek moyang. Hubertus, dengan suara yang dibalut keyakinan, menyampaikan harapan yang sederhana namun mendalam: masyarakat Domande hanya ingin dihargai. Hak atas tanah, rawa, dan hutan sebagai ruang hidup dan ruang cari harus diakui.

Mereka tidak menolak pembangunan, tetapi mereka menolak pembangunan yang buta, yang memakan korban tanpa mendengar jeritan yang terdiam. Jeritan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mendengar denyut nadi bumi Malind. Kini, harapan itu digantungkan pada kebijaksanaan pemerintah. Hubertus dan masyarakat adat Domande berharap ada kajian ulang, sebuah jeda untuk mendengarkan bisik halus dari hutan yang hendak digantikan oleh baris-baris tebu. Sebuah keputusan yang tidak hanya memandang angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan napas kebudayaan dan keberlanjutan hidup sebuah komunitas yang telah lama bersahabat dengan alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....