Lenyap di Balik Pintu Rumah Sakit

  • 27 Sep 2025 11:18 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Jarum jam menunjuk pukul sembilan pagi ketika gerbang Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Merauke terbuka. Empat orang narapidana melangkah keluar, disinari mentari pagi yang sama yang menyinari warga Merauke lainnya. Namun bagi mereka, sinar itu adalah sebuah titipan kebebasan yang singkat, hanya untuk berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah. Dua orang petugas, Hans Mahuze dan Wempi K., menjadi penjaga sementara dari janji kebebasan yang terbatas itu.

Perjalanan singkat itu berlangsung tanpa insiden. Sebelum pukul sebelas pagi, mereka sudah kembali. Tapi ada yang hilang dari kumpulan itu. Tiga orang masuk kembali ke balik tembok beton, menyimpan kembali cerita mereka tentang dunia luar. Satu orang, berinisial ES, memilih untuk tidak kembali. Ia menghirup udara kebebasan, lalu larut di dalamnya. Ia lenyap di antara keramaian RSUD Merauke, meninggalkan jejak yang membuat sebuah sistem pertanyaan.

“Yang tiga orang ada, yang satu entah ke mana gitu,” ujar Kepala Lapas Merauke, Dewanto, dengan nada yang menggemakan kekecewaan dan kekesalan. Sebuah pengakuan polos yang mengungkap sebuah kelalaian yang mahal harganya. ES, pria yang ditahan karena kepemilikan senjata ilegal, telah menjalani enam bulan dari total hukuman delapan bulannya. Hanya tersisa dua bulan lagi. Dua bulan yang mungkin terasa seperti keabadian bagi seorang yang rindu rumah, atau mungkin dua bulan yang terlalu panjang bagi seorang yang takut akan sesuatu. Motifnya masih menjadi misteri, bahkan penyakit yang dideritanya pun masih dicari data pastinya. Apakah ini sebuah pelarian terencana, atau sebuah keputusan spontan yang didorong ketakutan?

Kini, pencarian telah dimulai. Koordinasi dengan kepolisian dilakukan, sebuah permintaan bantuan disampaikan kepada masyarakat Merauke. Sementara itu, di dalam tembok lapas, sebuah pemeriksaan internal yang intensif akan segera menyasar kedua petugas yang bertugas. Surat Perintah Pemeriksaan akan menjadi awal dari pertanggungjawaban mereka. Kisah ini bukan lagi sekadar tentang seorang napi yang kabur, tetapi tentang sebuah rantai pengawasan yang putus, tentang kepercayaan yang dikhianati, dan tentang dua bulan sisa hukuman yang ditukar dengan sebuah kehidupan buron. Sebuah pilihan yang konsekuensinya kini harus ditanggung oleh banyak pihak, di bawah langit Merauke yang sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....