Di Perbatasan, Perang Sunyi Melawan Candu
- 26 Sep 2025 13:40 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di ujung negeri, di mana pagar bangsa bertaut dengan negara tetangga, berlangsung sebuah perang yang tak banyak terdengar. Bukan perang dengan dentuman senjata, melainkan perang sunyi melawan arus gelap narkoba yang menyusup melalui celah-celah perbatasan. Dari balik mikropon RRI Merauke, suara Ipda Dr. (C) Daniel Zeth Rumpaidus, S.H., M.H., dari Satresnarkoba Polres Merauke, mengalir lirih namun penuh ketegasan, membuka tabir sebuah pertempuran yang kompleks.
Kolaborasi telah dijalin. Tangan-tangan TNI dan Bea Cukai berpegangan dalam pertukaran informasi, membentuk perisai pertama. Namun, musuh yang dihadapi licin bagai bayangan. "Masalah utamanya adalah jalur tikus," ujar Daniel, menyebutkan jalur-jalur liar yang membelit perbatasan bagai akar tersembunyi. Jalur itulah yang menjadi urat nadi pemasokan barang terlarang, sebuah jalan setapak yang mengubah ketenangan perbatasan menjadi medan pertempuran rahasia.
Namun, tantangan sesungguhnya justru bermula dari sebuah transaksi yang tampak biasa. Daniel menyoroti sebuah modus yang menyentuh naluri paling dasar: bertahan hidup. "Masyarakat ada yang menukar hasil bumi, sembako, hingga kebutuhan sehari-hari dengan narkoba," ungkapnya. Kalimat itu menggambarkan sebuah tragedi yang pilu. Di tanah yang subur, di mana hasil bumi seharusnya menjadi berkah, justru ditukar dengan racun yang menghancurkan masa depan. Narkoba datang bukan sebagai ancaman yang kasar, tetapi sebagai "solusi" semu atas kebutuhan yang mendesak, menjerat masyarakat dalam jerat ketergantungan yang dalam.
Di balik upaya penegakan hukum yang keras, terselip sebuah harapan yang lebih halus. Polres Merauke tidak hanya mempersempit ruang gerak pelaku, tetapi juga berusaha membangun kesadaran dari dalam. Sinergi lintas sektor menjadi kunci, bukan hanya untuk mengepung, tetapi juga untuk membangun ketahanan masyarakat perbatasan. Perang ini tidak akan dimenangkan hanya dengan razia dan penyergapan. Ia akan dimenangkan ketika setiap keluarga di perbatasan memahami bahwa sekarung beras atau seikat sayur yang ditukar dengan sebungkus candu, sama dengan menjual hari esini anak-anak mereka sendiri. Inilah perang sunyi di ujung timur Indonesia, dimana yang diperjuangkan bukan hanya keamanan, tetapi juga jiwa-jiwa yang rentan di garis terdepan bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....